Harga LNG Industri Turun Jadi USD13 per MMBTU, Ancaman PHK Mulai Mereda

- Kamis, 02 Juli 2026 | 00:30 WIB
Harga LNG Industri Turun Jadi USD13 per MMBTU, Ancaman PHK Mulai Mereda

Pemerintah resmi menurunkan harga gas alam cair (LNG) untuk industri menjadi USD13 per MMBTU, langkah yang dinilai strategis untuk menekan biaya produksi dan mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Kebijakan ini disambut positif oleh kalangan pengusaha dan buruh, terutama di sektor granit, keramik, dan tekstil yang selama ini paling tertekan oleh tingginya harga energi.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo Subianto yang ternyata lebih rendah dari usulan awal pelaku usaha. Sebelumnya, dunia usaha meminta penurunan dari sekitar USD23 per MMBTU menjadi USD15 per MMBTU. "Yang diminta oleh dunia usaha sebenarnya dari USD23 per MMBTU turun menjadi USD15. Ternyata Presiden menurunkan lagi menjadi USD13 per MMBTU," ujarnya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Penurunan harga gas ini merupakan hasil pembahasan dalam Satuan Tugas (Satgas) PHK yang dipimpin Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Said mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima Satgas PHK, perusahaan-perusahaan di sektor granit dan keramik mulai memperoleh ruang untuk memperbaiki struktur biaya setelah harga gas diturunkan. "Laporan terakhir dua hari yang lalu, perusahaan-perusahaan granit dan keramik sementara ini lega di struktur biayanya dan tidak melakukan PHK," katanya.

Meski demikian, Said mengakui masih ada perusahaan yang melakukan efisiensi, seperti PT Granito. Namun, ia menegaskan jumlah pekerja yang terdampak jauh lebih kecil dibandingkan angka yang sempat beredar. "Granito memang melakukan PHK, tetapi hanya ratusan pekerja. Itu pun karena perusahaan melakukan diversifikasi usaha ke produk asbes, bukan lagi berfokus pada granit," ujarnya.

Kini, tantangan industri bergeser dari persoalan biaya energi menjadi persaingan dengan produk impor, terutama granit dan keramik asal China yang dijual dengan harga jauh lebih murah. "Sekarang tantangannya setelah harga gas turun adalah menghadapi impor granit dan keramik yang harganya sekitar 50 persen lebih murah. Itu yang sedang didiskusikan oleh Satgas PHK," kata Said.

Ia menambahkan, industri yang paling banyak memanfaatkan gas bumi nonsubsidi berada di wilayah Jawa, terutama di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kebijakan harga gas dinilai sangat menentukan keberlangsungan sektor manufaktur di wilayah tersebut, meskipun berlaku secara nasional.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags