Dari Modal Rp 600 Ribu, Perempuan 59 Tahun Ini Tembus Pasar Batik Amerika Serikat

- Selasa, 30 Juni 2026 | 23:45 WIB
Dari Modal Rp 600 Ribu, Perempuan 59 Tahun Ini Tembus Pasar Batik Amerika Serikat

Bermodal Rp 600 ribu, Dewi Agustiati memulai usaha batik dari rumahnya di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Kini, perempuan 59 tahun itu rutin mengirim produknya ke Amerika Serikat sebuah pencapaian yang tak pernah ia bayangkan saat pertama kali merintis usaha.

Awalnya, Dewi hanya ingin memiliki penghasilan sendiri hingga usia lanjut. "Niat utamanya sebenarnya ibu rumah tangga, tetapi gimana caranya supaya kita sampai usia 70 tahun itu berpenghasilan. Jadi tidak terpaku oleh pekerjaan suami," katanya. Tanpa pengalaman di bidang fesyen, ia mulai mengirim batik ke Amerika atas permintaan keluarga dan teman.

Namun, tak semua batik yang dikirim mendapat sambutan. Dewi melakukan riset panjang untuk memahami selera pasar Amerika. "Ada warna-warna tertentu yang nggak laku, nah itu kan riset, panjang itu," ujarnya. Ia menemukan bahwa motif yang terlalu ramai dan warna tertentu kurang diminati. Setelah berbagai percobaan, batik garutan menjadi jenis yang paling cocok untuk California. Dewi juga menyesuaikan bahan dengan cuaca di sana, memilih katun dan rayon yang lebih nyaman.

Setelah beberapa tahun mengandalkan pasar Amerika, Dewi sadar pertumbuhan usahanya terbatas. "Permintaan cuman sekian. Penghasilan saya juga terbatas. Akhirnya gimana caranya saya harus masuk jualan di Jakarta," katanya. Namun, masuk ke Jakarta bagaikan "hutan rimba" karena persaingan ketat. Ia kembali melakukan riset dan menemukan bahwa konsumen Jakarta lebih menyukai motif berani dan warna mencolok sangat berbeda dengan pasar Amerika.

Dengan modal dengkul, Dewi mengikuti program Jakpreneur. Ia membawa produknya untuk kurasi di Jakarta Creative Hub. "Saya kan dari nol, nol banget, modal dengkul awalnya sih," ujarnya. Produknya mendapat nilai A, membuka peluang mengikuti pameran di Balai Kota hingga Grand Indonesia.

Perjalanan berlanjut ke Rumah BUMN Jakarta. Dewi mengikuti program inkubator BRI dan terpilih sebagai peserta BRIncubator. Selama tiga bulan, ia mendapat pelatihan pengembangan bisnis secara daring. "Kalau kerja sama dengan instansi, kita harus aktif. Bagaimana pintarnya kita mendobrak dari bawah sampai atas, itu tergantung kita," katanya. Ia juga mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 70 juta untuk memperbesar produksi.

Kini, Dewi rutin mengirim batik ke San Diego, Amerika, melalui tiga pelanggan, salah satunya Krafis. Dalam sebulan, ia bisa mengirim hingga dua kali dengan berat sekitar 25 kilogram per pengiriman. Penghasilan kotor usahanya mencapai sekitar Rp 50 juta per bulan, meski jumlah itu tidak tetap. Dewi juga melibatkan tiga penjahit, termasuk dua di Cijantung yang ia bantu dengan membelikan mesin jahit. "Saya harus membantu juga sesama," katanya.

Langkah besar berikutnya, Dewi akan mengikuti pameran internasional di Las Vegas, Amerika Serikat. "Mereka mengajak para anak Indonesia untuk memamerkan produknya di sana. Dan begitu panjang ceritanya, akhirnya saya terkurasi dan diterima," ujarnya. Ia akan membawa produk handmade, mulai dari pakaian hingga kain batik. Meski persaingan global ketat, Dewi percaya produknya memiliki nilai yang membedakan.

Bagi Dewi, semua ini terjadi tanpa rencana muluk. "Ngalir begitu aja, ngalir," katanya.

Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif perkembangan UMKM seperti Dewi. "Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujarnya. Ia berharap penyaluran KUR dapat membantu UMKM naik kelas. "Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," kata Arbi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags