Embun Upas di Bromo Ancam Tanaman, Bisa Keringkan hingga Mati

- Rabu, 01 Juli 2026 | 18:18 WIB
Embun Upas di Bromo Ancam Tanaman, Bisa Keringkan hingga Mati

Fenomena embun upas atau lapisan es yang menyerupai salju di kawasan Gunung Bromo dalam beberapa waktu terakhir menarik perhatian wisatawan. Namun di balik keindahannya, embun beku itu justru mengancam vegetasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tanaman yang terkena embun upas dilaporkan mengering dan berpotensi mati.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengakui fenomena frost tersebut berdampak pada tanaman di sekitar lokasi munculnya embun. "Sedikit banyak berdampak terhadap beberapa vegetasi yang ada di sekitar ditemukannya embun upas. Daun-daun dan tanaman itu bisa menjadi kering karena terkena dari es, dinginnya es dari embun upas tersebut," kata Rudijanta saat dikonfirmasi, Rabu (1/7).

Ia menambahkan, tidak menutup kemungkinan vegetasi yang terkena embun upas bisa mati. Kondisi ini dinilai merugikan masyarakat yang bercocok tanam di area taman nasional. "Karena ketika terjadi embun upas, bisa menyebabkan kematian dari tumbuhan yang terkena embun upas tersebut," ujarnya.

Embun upas sejauh ini ditemukan di sejumlah titik, seperti Laut Pasir, Pusung Gedhe, dan Savana Lembah Watangan. Di kawasan Semeru, fenomena ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo. Semua lokasi itu berada di ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. "Tidak cuma di Bromo, tapi juga sekitar Ranupani, Ranu Kumbolo, dan di daerah-daerah yang sangat dingin, yang berada di dalam kawasan TNBTS bisa timbul embun upas, atau lapisan es yang terjadi dari embun yang membeku yang sangat dingin," tukasnya.

Munculnya embun upas dipicu oleh angin muson timur yang berembus dari Benua Australia, menyebabkan suhu udara di Gunung Bromo cukup dingin. Bahkan di beberapa waktu, suhu di TNBTS mencapai 5 derajat Celsius. Fenomena ini terjadi ketika suhu udara berkisar antara 5 hingga 9 derajat Celsius, dan hanya dijumpai pada pagi hari sebelum matahari terbit sempurna. Embun upas akan menghilang saat matahari mulai meninggi.

Diprediksi embun upas akan mudah dijumpai hingga Agustus mendatang, mengingat puncak musim kemarau belum tiba. Sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca cenderung lebih dingin karena adanya penurunan suhu yang ekstrem.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags