Nagelsmann Murka Besar Usai Gol Jonathan Tah Dianulir, Jerman Tersingkir Dramatis dari Piala Dunia 2026

- Selasa, 30 Juni 2026 | 22:15 WIB
Nagelsmann Murka Besar Usai Gol Jonathan Tah Dianulir, Jerman Tersingkir Dramatis dari Piala Dunia 2026

Langkah Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 terhenti secara dramatis pada babak 32 besar. Der Panzer tersingkir setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay di Boston Stadium, Amerika Serikat, Selasa 30 Juni 2026 WIB.

Kekalahan itu memicu kemarahan besar pelatih kepala Julian Nagelsmann. Juru taktik berusia 38 tahun itu menilai keputusan wasit menganulir gol Jonathan Tah di babak tambahan menjadi penyebab utama kegagalan timnya.

Statistik Dominasi Jerman Lawan Paraguay

Sepanjang waktu normal hingga babak tambahan, skuad Der Panzer tampil sangat dominan. Namun, efektivitas serangan dan pertahanan rapat lawan menjadi kendala besar.

Aspek PertandinganTimnas Jerman
Penguasaan Bola75 persen
Total Tembakan21
Tembakan Tepat Sasaran6
Tendangan Sudut16

Paraguay mengejutkan Jerman lebih dulu lewat gol Julio Enciso pada menit ke-42. Jerman baru bisa membalas sembilan menit pascaturun minum melalui sundulan Kai Havertz yang mengubah skor menjadi 1-1.

Kontroversi Pembatalan Gol Jonathan Tah

Puncak ketegangan terjadi pada menit ke-102 babak perpanjangan waktu. Jonathan Tah berhasil menyundul bola hasil sepak pojok masuk ke gawang Paraguay, tetapi wasit Jalal Jayed membatalkannya setelah meninjau VAR.

Wasit menilai telah terjadi pelanggaran terlebih dahulu terhadap penjaga gawang Paraguay, Orlando Gill. Keputusan ini langsung memicu gelombang protes keras dari seluruh komponen tim Jerman di lapangan.

"Saya baru saja melihat tayangan ulangnya sekarang. Ini bukan sekadar skandal, ini benar-benar skandal besar. Itu sama sekali bukan pelanggaran," kata Julian Nagelsmann, Selasa (30 Juni 2026).

Perubahan Strategi Julian Nagelsmann

Menghadapi pertahanan berlapis, sang pelatih mengakui bahwa aliran bola timnya terlalu lambat pada awal laga. Hal tersebut menyulitkan ruang gerak para pemain depan untuk membongkar taktik lawan.

"Permainan kami saat membangun serangan sangat lambat; butuh waktu lama untuk memindahkan bola dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya. Pada akhirnya kami beralih pendekatan yang lebih mengandalkan kekuatan fisik, dan saat itu memang penting untuk mengirim umpan-umpan tajam ke dalam kotak penalti," katanya.

Perubahan strategi tersebut sengaja dilakukan untuk memaksimalkan keunggulan postur tubuh para pemain Jerman melalui skema bola mati. Namun, keputusan kontroversial VAR menggagalkan momentum kebangkitan yang sudah direncanakan tersebut.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags