Elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi disebut-sebut telah melampaui Presiden Prabowo Subianto. Fenomena ini memicu spekulasi tentang kemungkinan Dedi meninggalkan Partai Gerindra, seperti yang pernah ia lakukan terhadap Partai Golkar saat maju sebagai calon gubernur.
Pengamat politik Tony Rosyid menilai, elektabilitas tidak semata-mata mencerminkan kualitas program atau kinerja, melainkan kemampuan memikat hati dan memengaruhi persepsi publik. Menurutnya, dalam hal ini, Dedi Mulyadi adalah jagonya, setelah Presiden Joko Widodo.
Tony menjelaskan, hampir seluruh rakyat Indonesia memiliki ponsel dan membukanya setiap saat. Di platform seperti YouTube, Instagram, Twitter, TikTok, dan Facebook, Dedi Mulyadi muncul dengan konten-konten pendek yang menghibur. "Mayoritas rakyat Indonesia suka hiburan ringan dan renyah yang disajikan Dedi, apalagi dalam kondisi stres akibat tekanan ekonomi," ujarnya.
Jika Jokowi tampil dengan gaya wong ndeso, nyebur ke lumpur sawah, dan masuk gorong-gorong, Dedi Mulyadi tampil lebih atraktif. Ia kerap menggusur bangunan atau bedeng di lahan milik negara, seperti milik dinas kehutanan atau pengairan. Umumnya, bangunan yang digusur berukuran kecil milik rakyat kecil. "Bangunan besar? Terlalu berat risikonya. Bangunan besar biasanya milik pejabat tinggi atau orang kaya di Jakarta. Kelas kakap seperti reklamasi, Anies yang biasa menghadapinya. Setiap pemimpin punya ukuran nyali dan keberanian masing-masing," kata Tony.
Sebagai gubernur, Dedi aktif mendatangi rumah orang miskin dan memberikan bantuan langsung. Ia berbicara ala orang desa yang bersahaja, memberi semangat, lalu mengambil uang dari dompet dan memberikannya. "Sumber uang itu entah dari gaji atau dana operasional gubernur. Karena langsung diulurkan dari tangan Dedi sendiri, maka jadi konten yang sangat menarik," ujar Tony.
Tony menambahkan, soal apakah bantuan langsung seperti ini dapat mengurangi angka kemiskinan di Jawa Barat adalah bab lain. "Yang penting mereka senang dan penonton YouTube, Instagram, Twitter, atau TikTok merasa terhibur dan bisa ambil pelajaran."
Menurut Tony, Prabowo tidak bisa melakukan seperti yang Dedi lakukan, begitu juga Anies Baswedan. Sesekali bisa, tetapi tidak jadi pola. "Mungkin Ganjar Pranowo bisa, tapi masanya sepertinya sudah lewat."
Bagi Dedi Mulyadi, konten sudah menjadi pola kampanye. Dari konten ini, popularitas Dedi melambung tinggi dan elektabilitasnya menyalib Prabowo. "Ini bukti bahwa konten Dedi sungguh sangat efektif," kata Tony. Ia menambahkan, di belakang Dedi ada orang-orang handal yang menjadi konsultan politik dan tim profesional yang menggarap media sosialnya.
Jika menuju 2029 elektabilitas Dedi terus naik, minimal stabil, ia akan menjadi magnet dan dilirik banyak partai. "Partai-partai koalisi Prabowo tidak menutup kemungkinan akan tinggalkan Prabowo jika elektabilitas sang presiden terus turun dan tidak cukup meyakinkan untuk memenangi pilpres. Mereka bisa beralih ke Dedi," ujar Tony.
Jika terjadi "tumbu ketemu tutup", partai-partai melamar dan sahwat politik Dedi besar, maka ada kemungkinan Dedi meninggalkan Gerindra dan ikut partai pengusung. "Seperti ketika Dedi tinggalkan Golkar ketika akan maju ke Pilgub Jawa Barat. Hijrah dari Golkar ke Gerindra," kata Tony.
Pindah partai merupakan hal biasa dalam perpolitikan Indonesia, sebuah konsekuensi dari sistem multi partai yang minus kekuatan ideologi dan platform. Apalagi, Dedi di Partai Gerindra adalah kader baru. Sebelumnya, ia adalah kader Golkar ketika mencalonkan diri sebagai bupati Garut, bahkan pernah menjadi ketua DPD Golkar Jawa Barat. Lalu pindah ke Gerindra ketika nyagub di Jawa Barat.
Gerindra merebut Jawa Barat dengan mengusung Dedi Mulyadi setelah berhasil mendorong Ridwan Kamil ke Pilgub Jakarta dan kalah. Nasib Ridwan Kamil redup, sekarang digantikan Dedi. Ke depan, Dedi akan moncer atau redup menyusul Ridwan Kamil.
Jawa Barat seksi. Pemilih Jawa Barat terbesar di Indonesia, 35 juta, sangat signifikan sebagai pendulang suara partai maupun untuk suara di pilpres.
Ketika elektabilitas Dedi menyalib Prabowo dan jauh meninggalkannya, lalu Dedi nyapres, akankah Prabowo mengalah dan estafet pencapresan diserahkan ke Dedi? Atau Prabowo tetap nyapres, lalu Dedi keluar dari Gerindra dan diusung oleh partai lain?
Artikel Terkait
Komentar Spam Judi Online di Medsos Naik 128 Persen, Bot Jadi Modus Baru
Trust Finance Bagikan Dividen Rp60 per Saham, Lebih Tinggi dari Laba Bersih
Bus Rombongan Piknik Terperosok ke Parit di Tol Semarang-Solo, Dua Tewas
Kakek 81 Tahun Ditemukan Tewas di Hutan Selorejo Setelah Seminggu Hilang