Data Ketenagakerjaan AS dan Konflik Timur Tengah Bayangi Wall Street Pekan Depan

- Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20 WIB
Data Ketenagakerjaan AS dan Konflik Timur Tengah Bayangi Wall Street Pekan Depan

Pekan depan, pasar saham Amerika Serikat akan menghadapi ujian baru. Rilis data ketenagakerjaan yang dinanti bisa memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan menambah tekanan di tengah volatilitas yang sudah dipicu oleh gejolak saham teknologi. Jika data menunjukkan ekonomi masih terlalu panas, investor justru akan khawatir, bukan lega.

Indeks-indeks utama Wall Street sejatinya mencatat kinerja solid di paruh pertama 2026. S&P 500 telah menguat lebih dari 7 persen sejak awal tahun. Namun, tekanan mulai terasa sepanjang Juni. Saham semikonduktor yang sebelumnya meroket kini bergerak liar, seiring investor mengkaji ulang optimisme terhadap potensi keuntungan dari kecerdasan buatan.

Risalah rapat Federal Reserve bulan ini mengonfirmasi fokus ketat para pembuat kebijakan dalam mengendalikan inflasi. “Jika data ketenagakerjaan ternyata sangat kuat, saya rasa pasar tidak akan menganggapnya sebagai kabar baik,” ujar Doug Huber, Deputy Chief Investment Officer Wealth Enhancement. Pasar, menurutnya, justru akan melihat ekonomi masih terlalu panas dan mulai memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.

Perhatian utama tetap tertuju pada saham teknologi, khususnya produsen chip. Indeks Philadelphia SE Semiconductor telah melonjak lebih dari 90 persen sejak titik terendah pada akhir Maret, tetapi pekan ini terkoreksi karena investor menilai reli tersebut mungkin sudah berlebihan. Laporan keuangan Micron Technology yang jauh melampaui ekspektasi pada Rabu malam sempat menopang sektor itu, namun indeks Nasdaq Composite tetap berada di jalur penurunan mingguan.

Inflasi dan Suku Bunga

Inflasi masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Dalam pertemuan terakhir, bank sentral menegaskan fokus pada pemulihan stabilitas harga, yang dinilai investor bernada lebih hawkish dari perkiraan. Data Kamis lalu menunjukkan inflasi menembus 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dipicu kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka Fed Funds mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini lebih besar daripada peluang tidak naik, menurut data LSEG pada Kamis. Ini berbalik dari awal tahun, ketika investor justru memperkirakan penurunan suku bunga yang akan menguntungkan pasar saham. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menjadi hambatan karena meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan konsumen, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Investor juga akan mencermati laporan keuangan Nike pekan depan. Musim laporan kuartal II akan mulai bergulir lebih ramai pada Juli.

Perkembangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian. Harga energi mulai mereda setelah tercapainya gencatan senjata di kawasan tersebut. Harga minyak turun ke kisaran USD70 per barel dari sekitar USD100 sebulan lalu. “Kami sedang mengevaluasi apakah gencatan senjata di Timur Tengah memiliki daya tahan, serta bagaimana dampaknya terhadap harga minyak dan efek lanjutannya terhadap inflasi,” kata Huber.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags