Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Senin (10/8/2026), menghentikan laju rekor yang dicapai pekan lalu. Pelemahan terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan menjelang rilis data inflasi yang dinanti pelaku pasar.
Dow Jones Industrial Average terkoreksi 72,88 poin (0,13 persen) ke level 53.964,05. S&P 500 turun 5,22 poin (0,07 persen) menjadi 7.752,42, sementara Nasdaq Composite melemah 61,56 poin (0,23 persen) ke posisi 26.629,06.
Dari kawasan Timur Tengah, Iran mengklaim hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru di antara kedua negara. Namun, Teheran menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) harus memenuhi sejumlah persyaratan sebelum jalur perairan strategis tersebut dibuka kembali. Situasi ini menambah ketidakpastian di pasar global.
Di sisi lain, pelaku pasar tengah menantikan data inflasi konsumen dan produsen yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut dianggap penting untuk memberikan petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama karena Ketua The Fed Kevin Warsh cenderung memberikan panduan terbatas mengenai langkah selanjutnya.
“Narasi yang berlaku adalah inflasi masih tinggi, tetapi tidak terlalu jauh dari target The Fed sebesar 2 persen,” ujar Chief Investment Officer Edwards Asset Management, Bob Edwards. Ia menambahkan, data CPI yang jinak serta kemungkinan tidak adanya kenaikan suku bunga pada September akan membuka ruang bagi pasar untuk bergerak lebih cepat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan mencapai 44 persen.
Kinerja Sektor dan Saham
Di pasar saham, enam dari sebelas sektor S&P 500 ditutup melemah. Sektor real estate dan consumer staples menjadi pemberat utama, sementara indeks teknologi informasi turun 0,4 persen. Saham Apple merosot 2,4 persen setelah Jefferies menurunkan rekomendasinya. Intel juga anjlok 4,8 persen setelah mengumumkan penawaran saham senilai USD15 miliar.
Sebaliknya, indeks energi S&P 500 melonjak 2,6 persen, seiring kenaikan harga minyak sekitar 2 persen.
Memasuki pekan ini, kalender laporan keuangan perusahaan mulai sepi. Beberapa emiten yang dijadwalkan merilis kinerja antara lain Applied Materials dan Cisco. Selain itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, dijadwalkan menyampaikan pernyataan pada hari ini.
Secara terpisah, Senat AS pada Sabtu lalu meloloskan rancangan undang-undang sementara untuk mendanai lembaga-lembaga federal hingga 11 Desember. Langkah ini mencegah terjadinya shutdown pemerintahan yang berpotensi melumpuhkan aktivitas pemerintah hanya beberapa pekan sebelum pemilihan paruh waktu November.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat, S&P 500 Cetak Rekor Penutupan Tertinggi
Wall Street Cetak Rekor, S&P 500 Ditutup di Level Tertinggi
Wall Street Menguat, S&P 500 Cetak Rekor Penutupan
Data Inflasi AS Pekan Depan Jadi Ujian bagi Reli Wall Street