Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Selasa (11/8/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran atas ketegangan di Timur Tengah setelah seorang pejabat Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai syarat-syarat Teheran dipenuhi. Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak dan membebani sentimen investor di Wall Street.
Indeks S&P 500 turun 0,4 persen ke level 7.725,76 poin, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,6 persen ke posisi 26.445,45 poin. Adapun Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,3 persen dan berakhir di angka 53.791,97 poin. Pada awal sesi, indeks-indeks utama cenderung bergerak datar karena pelaku pasar memilih bersikap wait-and-see menjelang rilis data inflasi yang dijadwalkan keluar dalam dua hari ke depan.
"Pasar saham tampaknya kecewa atas minimnya kemajuan di Teluk Persia. Harga minyak dan imbal hasil obligasi sama-sama naik, tetapi pasar saham justru bergerak turun," ujar Steve Sosnick, Kepala Strategi di Interactive Brokers. Meski demikian, ia menilai penurunan kali ini tidak merata. "Ini bukan aksi jual yang meluas. Jumlah saham yang naik di NYSE dan komponen S&P 500 lebih banyak daripada yang turun, tetapi penurunan pada beberapa saham teknologi besar seperti AAPL, AMZN, GOOGL, MSFT, dan AVGO menekan indeks utama," jelasnya.
Para pelaku pasar kini menanti data indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis besok. "Ekspektasi menunjukkan kenaikan bulanan yang moderat pada Juli 0,1 persen untuk inflasi umum dan 0,2 persen untuk inflasi inti. Angka yang jauh melenceng dari konsensus dapat menggerakkan pasar yang saat ini cenderung tenang," tambah Sosnick.
Ketidakpastian Selat Hormuz
Pelemahan Wall Street terjadi setelah sebelumnya pasar sempat mencatat kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan April. Namun, pada Senin, bursa terkoreksi akibat lonjakan harga minyak di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Washington dan Teheran saling melontarkan klaim yang bertentangan: AS bersikeras selat itu terbuka untuk pelayaran komersial, sementara Iran memperingatkan bahwa selat itu praktis tertutup.
Iran dikabarkan sedang berunding dengan Oman untuk menyusun kerangka pengelolaan selat tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan negosiasi kedua negara telah mencapai tahap lanjut dan berada di titik krusial. Sementara itu, Bloomberg News melaporkan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai, mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif. Oman dan Pakistan telah berperan sebagai mediator utama dalam konflik tersebut.
Di sisi lain, Iran menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat-syarat tertentu, termasuk pencabutan blokade angkatan laut AS, penghapusan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Pada Senin, Presiden Donald Trump membalas dengan tuntutan kompensasi serupa. "Setiap kali musuh melanggar komitmennya dan kembali melakukan tindakan perang, mereka akan menghadapi kondisi yang lebih keras. Kali ini pun, hukuman bagi agresor terus berlanjut, dan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai syarat-syarat Iran dipenuhi," ujar Mohammad Mokhber, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, melalui media sosial pada Selasa.
Dampak ketegangan ini mulai terlihat pada lalu lintas pelayaran di selat tersebut. Menurut data Kpler, jumlah kapal yang melintas turun drastis dari 15 kapal pada Jumat menjadi 11 kapal pada Sabtu, dan hanya enam kapal pada Minggu. Sebelumnya, Trump dalam sebuah wawancara mengatakan Iran sedang mengalami kesulitan ekonomi dan keuangannya dikendalikan oleh AS. "Mereka adalah negosiator yang sangat licik karena mereka akan menyetujui sesuatu, lalu keluar dan mengatakan kepada pers bahwa mereka tidak pernah menyetujuinya," ujar penasihat presiden kepada pembawa acara Wayne Allyn Root.
Artikel Terkait
Senator AS: Trump Kalah Perang Lawan Iran, Negeri Semakin Lemah
Harga Minyak Kembali Menguat, Kekhawatiran Pasokan Timur Tengah Masih Berlanjut
Trump Klaim AS Kuasai Penuh Selat Hormuz dan Bersihkan Ranjau Iran
Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.861