Skotlandia menghadapi Brasil di Stadion Miami, Kamis (25/6) dini hari WIB, dalam laga penentu nasib Grup C Piala Dunia 2026. Satu hasil imbang sudah cukup mengantarkan Skotlandia ke babak 32 besar untuk pertama kalinya sejak 1998.
28 Tahun Penantian
Sudah 28 tahun sejak Skotlandia terakhir kali merasakan babak gugur Piala Dunia. Pada edisi 1998 di Prancis, mereka tersingkir di fase grup setelah kalah dari Brasil, imbang dengan Norwegia, dan menang atas Maroko. Kini, sejarah bisa berbalik.
"Kami memiliki skuad yang bisa bertahan dengan keunggulan. Tapi kami tidak tahu seberapa bagus Brasil kali ini," ujar Alan Rough, mantan kiper Skotlandia yang hadir di Miami, kepada BBC Sport, Rabu (24/6).
Skotlandia mengoleksi tiga poin dari dua laga imbang tanpa gol melawan Maroko dan kemenangan 1-0 atas Haiti. Pertahanan solid menjadi fondasi utama perjuangan mereka.
Klasemen Grup C yang Ketat
Brazil memuncaki klasemen dengan empat poin, unggul selisih gol atas Maroko yang juga empat poin. Skotlandia berada di posisi ketiga dengan tiga poin.
| Posisi | Tim | Main | Menang | Seri | Kalah | Gol | Kebobolan | Poin |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Brasil | 2 | 1 | 1 | 0 | 4 | 1 | 4 |
| 2 | Maroko | 2 | 1 | 1 | 0 | 2 | 1 | 4 |
| 3 | Skotlandia | 2 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 3 |
| 4 | Haiti | 2 | 0 | 0 | 2 | 0 | 4 | 0 |
Jika Skotlandia mengalahkan Brasil, mereka bisa naik ke puncak grup asalkan Maroko gagal menang atas Haiti. Hasil imbang hampir pasti mengamankan posisi ketiga dan tiket ke babak 32 besar.
Ancelotti dan Ancaman Brasil
Carlo Ancelotti membawa skuad bertabur bintang ke Miami. Vinicius Junior tampil tajam dengan satu gol dan satu assist. Neymar tetap menjadi ancaman dengan naluri gol dan umpan-umpan terobosannya.
"Skotlandia tim yang terorganisir. Mereka tidak mudah ditembus," ujar Ancelotti dalam konferensi pers di Miami, Rabu (24/6).
Brazil wajib menyamai atau melampaui hasil Maroko untuk tetap di puncak grup. Hasil imbang bisa membuat mereka turun ke posisi kedua jika Maroko menang dengan selisih gol besar.
Euforia Tartan Army
Miami Stadium berubah menjadi lautan biru putih. Suporter Skotlandia memadati area stadion sejak sore waktu setempat dengan nyanyian "Flower of Scotland" bergema dari segala penjuru.
"Saya menyaksikan Skotlandia lawan Brasil tahun 1998 bersama ayah. Sekarang saya di sini dengan putra saya. Ini momen lintas generasi," kata Alfie, suporter Skotlandia yang diwawancarai BBC, Rabu (24/6).
Tartan Army dikenal sebagai salah satu basis suporter paling fanatik di dunia. Kedatangan mereka dalam jumlah besar ke Miami membuktikan arti penting momen ini.
Proyeksi Duel Taktis
Steve Clarke diprediksi tetap menggunakan formasi 3-4-2-1 andalannya. Scott McTominay menjadi motor serangan balik. John McGinn dan Lewis Ferguson mengisi lini tengah dengan energi tinggi.
Brazil akan tampil menekan sejak awal lewat formasi 4-2-3-1. Kunci pertandingan ada pada kemampuan Skotlandia bertahan di 15 menit pertama. Jika lolos dari tekanan awal Brasil, peluang mencuri hasil imbang akan terbuka lebar.
Artikel Terkait
BP Tapera Usul Perluasan Insentif PPN Rumah Susun Subsidi hingga Tipe 45
Pilot F-15E AS Klaim Lihat Formasi Drone Iran Mirip Ubur-Ubur Sebelum Pesawatnya Ditembak Jatuh
Prabowo Tegaskan Perjuangan Puluhan Tahun untuk Perkuat dan Sejahterakan Rakyat
Pemerintah Masih Kaji Lokasi Upacara HUT ke-81 RI di Jakarta dan IKN, Masyarakat Diminta Pilih Logo Resmi