Letnan Jenderal TNI (Purn) Sutiyoso pernah mengalami lima hari tanpa makan demi menyelamatkan anak buahnya yang tertembak di medan perang. Kisah itu terjadi saat ia masih menjabat sebagai Kapten Infanteri dan memimpin penyusupan ke wilayah Timor Portugis, yang kini dikenal sebagai Timor Leste, dalam Operasi Flamboyan.
Operasi tersebut melibatkan tiga tim intelijen tempur terbatas: Tim Susi, Tim Tuti, dan Tim Umi. Masing-masing tim beranggotakan 100 personel. Tim Susi dipimpin Mayor Infanteri Yunus Yosfiah dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sunarto. Tim Tuti di bawah komando Mayor Infanteri Tarub dengan wakilnya Kapten Infanteri Agus Salim Lubis. Sementara Tim Umi dipimpin Mayor Infanteri Sofian Effendi dan wakilnya, Kapten Infanteri Sutiyoso.
Ketiga tim menyusup dengan penyamaran khas: rambut gondrong, pakaian sipil berupa kemeja dan celana jeans, dilengkapi topi serta selendang khas Timor Portugis. Mereka kemudian dikenal legendaris sebagai The Blue Jeans Soldiers. Setiap anggota menggunakan nama samaran. Sutiyoso, yang menjabat sebagai Kasi Intel Satgas, memilih nama Manix terinspirasi dari film mata-mata. Sejak itu ia akrab disapa Kapten Manix.
Latar belakang operasi ini adalah gerakan revolusioner anti-komunis yang dilakukan Partai UDT pimpinan Francisco Xavier Lopez da Cruz terhadap Fretilin pada 11 Agustus. Gerakan itu berhasil dilumpuhkan Fretilin, dan banyak anggota UDT ditangkap serta dibunuh.
Pada 27 Agustus 1975, Tim Umi diterbangkan ke Kupang, lalu menuju Atambua, kota terdekat Indonesia dengan Timor Portugis. Rencana awal penyusupan melalui Kefamenanu untuk menguasai Ambeno batal. Tim diperintahkan melanjutkan perjalanan ke Motaain, sebuah desa pantai di wilayah RI yang hanya berjarak tiga kilometer sebelah barat Kota Batugede, Timor Portugis. Karena situasi tidak memungkinkan, Tim Umi akhirnya menyusup jauh ke daerah pedalaman pegunungan di selatan Viqueque.
”Saya dan pasukan mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viqueque yang terletak jauh dari basis. Tapi sebagai seorang prajurit, kita selalu siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya apapun risikonya,” kenang Sutiyoso.
Keterbatasan pasukan memaksa Tim Umi di Kotabot dibagi dua. Satu kelompok di bawah Mayor Inf Sofian Effendi menyusup ke Tilomar, sementara kelompok yang dipimpin Sutiyoso menyusup ke Suai. Ini menjadi penyusupan terjauh sepanjang Operasi Flamboyan.
Menjelang tengah malam, saat mendekati Suai, pasukan kembali dibagi dua karena ada dua sasaran: markas polisi dan markas tentara. Sutiyoso menyasar markas tentara, sementara pasukan kecil pimpinan Letnan Bambang bergerak menuju markas polisi.
Tepat pukul 01.00 waktu setempat, Sutiyoso memberi isyarat dengan melepas tembakan. Kedua tim serentak menyerang. Perlawanan sengit terjadi. Setelah 20 menit bertempur, Sutiyoso kembali melepas tembakan sebagai isyarat mundur sesuai strategi hit and run.
Di tengah pertempuran, Sutiyoso mendapat laporan bahwa Sersan Parman, penembak roket launcher, tertembak di kakinya. Pembantunya, Sarwono, juga tertembak hingga satu jari tangannya putus. Empat anggota lain ikut terluka. Namun saat akan dijemput, Sersan Parman dan Sarwono telah berpindah tempat.
Pertempuran terus berlangsung sementara musuh melakukan pengejaran. Pergerakan tim Sutiyoso kembali ke Kotabot terhambat karena harus bertempur sambil membopong empat anggota yang tertembak. Dalam situasi perang dahsyat seperti itu, keempat prajurit yang terluka ”mestinya” ditembak mati agar tidak menjadi beban. Para senior yang dihubungi melalui radio pun menyarankan agar mereka ditinggal. Namun Sutiyoso tidak tega. Ia bersama tiga anggota lain membopong mereka sambil memanggul senjata.
Di tengah gempuran, anggota yang dipapah Sutiyoso meminta agar ia ditinggal dan dibekali granat. Jika tertangkap, mereka akan meledakkan diri. ”Tidak! Kamu bisa saya selamatkan. Kuatkan saja dirimu!” jawab Sutiyoso.
Hari sudah siang. Rasa lapar dan haus mulai menyerang. Tim belum makan. Di tempat yang cukup aman, Sutiyoso membuka radio dan meminta bantuan helikopter. Namun helikopter terbang terlalu tinggi sehingga kepulan asap yang dibuat sebagai isyarat tidak terlihat. Sutiyoso menghubungi Kolonel Dading untuk mengirim helikopter lagi. Lagi-lagi pilot tidak melihat lima titik kepulan asap.
Sutiyoso kemudian menembakkan pistol dengan tembakan isyarat warna hijau. Upaya itu berhasil, tetapi juga membuat pasukan Fretilin mengetahui keberadaan mereka.
Di tengah serangan, Sutiyoso meletakkan senjata dan ransel untuk membopong anggotanya yang terluka naik ke helikopter. Setelah berjuang keras, keempat prajurit yang tertembak berhasil dievakuasi. Sutiyoso kembali bergerak mencari jalan menuju perbatasan.
Fretilin sudah menyebar di mana-mana. Perjalanan yang semula direncanakan 10 hari harus ditempuh dalam 15 hari. Pada hari kelima, logistik habis. Tidak ada makanan, tidak ada air minum. Keletihan, lapar, dan haus luar biasa, namun mereka harus terus bergerak menghindari kejaran musuh.
Di tempat yang dirasa aman, Sutiyoso memerintahkan pasukannya beristirahat. Ia sendiri terus menahan kantuk dan rasa letih. Ia tidak mau semua terlelap tanpa ada yang berjaga. Sutiyoso juga melarang anggotanya melepaskan tembakan kecuali sangat diperlukan, karena peluru mereka masing-masing hanya tersisa 20 butir dari semula 250 butir.
Setelah beristirahat sejenak, Sutiyoso bersama pasukannya kembali bergerak menyusuri jalur pantai. Beberapa jalur lain telah disekat Fretilin. Satu per satu anggota bergerak pada malam hari. Hingga akhirnya mereka selamat sampai di perbatasan dan masuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Semua anggota pasukan selamat, meski kondisi mereka amat kurus tak terkecuali Sutiyoso yang selama lima hari tidak makan.
Artikel Terkait
Bosnia Kalahkan Qatar 3-1, Harapan Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026 Masih Hidup
Sekretaris Dinas Perumahan Bangkalan Ditemukan Tewas di Mobil Dinas di Bandara Juanda
Jadwal Salat Bandung Hari Ini, Kamis 25 Juni 2026: Subuh 04.39, Magrib 17.51 WIB
Swiss Kunci Puncak Grup B Usai Taklukkan Tuan Rumah Kanada 2-1