Bantuan Stimulan Picu Kebangkitan Ekonomi Warga Pascabencana di Pidie Jaya

- Minggu, 21 Juni 2026 | 16:35 WIB
Bantuan Stimulan Picu Kebangkitan Ekonomi Warga Pascabencana di Pidie Jaya

Bantuan dana stimulan yang disalurkan kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak hanya dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah yang rusak, tetapi juga menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi keluarga. Di tengah proses pemulihan pascabencana, sejumlah warga mulai membangun kembali sumber penghidupan melalui usaha-usaha kecil yang tumbuh di kawasan hunian sementara (huntara).

Milawati, warga Desa Meunasah Lhok, menjadi salah satu penerima manfaat yang menggunakan bantuan tersebut untuk merenovasi rumahnya sekaligus membersihkan sisa lumpur akibat banjir. Namun, proses pemulihan yang dijalaninya tidak berjalan mulus. Banjir kembali melanda ketika rumahnya masih dalam tahap pembersihan, memaksanya untuk memulai dari awal lagi.

Di tengah keterbatasan itu, Milawati memilih untuk bangkit. Bersama keluarganya, ia membuka usaha kecil di kawasan huntara dengan menjual aneka makanan ringan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Hasil jualan ini kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu ekonomi keluarga,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/6/2026).

Pernyataan itu ia sampaikan di Kompleks Huntara Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada awal Juni 2026 lalu. Milawati mengaku bahwa bantuan stimulan sebesar Rp8 juta yang diterimanya, ditambah dana koperasi sebesar Rp200 ribu, sangat membantu proses pemulihan keluarganya. Saat ini ia tinggal bersama suaminya di huntara, sementara anak-anaknya bekerja di luar daerah dan satu orang masih menempuh pendidikan di pesantren.

Kisah serupa dialami Salwati, warga Desa Meunasah Lhok lainnya. Sebagian dana stimulan yang diterimanya digunakan sebagai modal usaha kecil yang kini dijalankannya di kawasan huntara.

“Jualan ini untuk memenuhi uang belanja hari-hari,” kata Salwati.

Berbagai makanan dan minuman ia jual untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar, sekaligus menjadi sumber penghasilan baru di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan pascabencana.

Sementara itu, tumbuhnya usaha-usaha kecil di kawasan huntara menunjukkan bahwa bantuan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera tidak hanya berfungsi memulihkan kerusakan fisik akibat bencana, tetapi juga menjadi fondasi bagi pemulihan ekonomi masyarakat. Warga mulai membangun kembali kemandirian dan optimisme untuk menata kehidupan yang lebih baik.

Kisah Milawati dan Salwati menjadi gambaran bahwa di balik bencana terdapat semangat untuk bangkit. Melalui dukungan pemerintah dan kerja sama berbagai pihak, masyarakat Pidie Jaya perlahan membangun kembali kehidupan mereka, menjadikan bantuan yang diterima bukan sekadar sarana pemulihan, melainkan juga harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar