Wall Street Melonjak, S&P 500 Tembus Rekor Usai AS-Iran Teken Gencatan Senjata Buka Selat Hormuz

- Jumat, 19 Juni 2026 | 08:15 WIB
Wall Street Melonjak, S&P 500 Tembus Rekor Usai AS-Iran Teken Gencatan Senjata Buka Selat Hormuz

Wall Street mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, didorong oleh gelombang optimisme setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara yang membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini, yang ditandatangani di luar agenda resmi, memicu reli di tengah meredanya ketegangan geopolitik yang selama berbulan-bulan membayangi pasar global.

Indeks acuan S&P 500 melesat 1,1 persen ke level 7.497,86 poin, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melonjak 1,9 persen menjadi 26.517,93 poin. Dow Jones Industrial Average, yang didominasi saham-saham unggulan, menguat tipis 0,1 persen ke posisi 51.565,26 poin. Pergerakan ini membalikkan tren negatif pada sesi sebelumnya, ketika bursa saham tertekan oleh pernyataan Federal Reserve yang memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga seperempat poin tahun ini. Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, juga mengumumkan tinjauan menyeluruh terhadap praktik bank sentral yang membuat investor bersikap hati-hati.

Mark Luschini, kepala strategi investasi di Janney Montgomery Scott, menilai pasar mulai berdamai dengan sikap agresif kepemimpinan baru bank sentral. “Para investor tampaknya telah menerima kenyataan bahwa pemimpin baru Federal Reserve memimpin pertemuan FOMC yang sangat agresif, yang hasilnya menunjukkan bahwa kemungkinan langkah kebijakan selanjutnya adalah menaikkan suku bunga atau mempertahankannya tetap stabil untuk masa mendatang,” ujarnya.

Di sisi lain, kesepakatan damai antara AS dan Iran menjadi katalis utama yang mengubah sentimen pasar. “Penandatanganan (kesepakatan damai) yang memungkinkan kapal-kapal untuk melanjutkan arus melalui selat tersebut semakin menurunkan harga minyak dan meningkatkan kepercayaan bahwa solusi yang langgeng untuk perang dengan Iran sudah di depan mata,” kata Luschini. Ia menambahkan bahwa reli harga saham yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir kini mendapat dorongan tambahan dari penurunan harga energi yang berpotensi meredakan tekanan biaya dan inflasi.

Kesepakatan bersejarah itu sendiri terwujud dalam momen yang tak terduga. Presiden Donald Trump menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran saat makan malam di Istana Versailles, Prancis, pada Rabu malam. Momen tersebut diabadikan dalam gambar yang diposting Gedung Putih dan video yang dibagikan Presiden Prancis Emmanuel Macron di media sosial. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena upacara penandatanganan resmi antara perwakilan kedua negara justru dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat. Hingga kini, status upacara tersebut masih belum jelas.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut memposting gambar MoU yang telah ditandatangani pihak Teheran di media sosial. Ia menyebut dokumen itu sebagai “dokumen bersejarah” yang merupakan hasil dari “ketahanan nasional, rasionalitas politik, dan diplomasi yang bertanggung jawab.” Berdasarkan teks yang dipublikasikan Iran, MoU tersebut mengakhiri operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, dan membuka periode negosiasi selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir. Iran juga menegaskan kembali komitmennya untuk tidak membeli atau mengembangkan senjata nuklir, serta akan membuang material yang diperkaya melalui mekanisme yang disepakati bersama.

Salah satu poin paling krusial dalam kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya atau pungutan apa pun selama 60 hari. Jalur vital yang menjadi lintasan seperlima minyak dan gas alam cair dunia ini telah ditutup sejak awal konflik, menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendongkrak harga minyak mulai memudar. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka Agustus, patokan global, hanya naik tipis 0,2 persen menjadi USD79,69 per barel level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Pasar saham akan tutup pada Jumat untuk libur Juneteenth. Secara mingguan, S&P 500 mencatat kenaikan 0,9 persen, Nasdaq naik 2,4 persen, dan Dow menguat 0,7 persen.

Di tengah euforia kesepakatan damai, sejumlah saham mencatat pergerakan signifikan. Intel melonjak setelah Presiden Trump mengumumkan bahwa Apple setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan semikonduktor tersebut merancang dan membangun chip di Amerika Serikat. Saham pembuat chip lain seperti Marvell dan Micron juga ikut terkerek naik. Apple sendiri menguat setelah CEO Tim Cook mengungkapkan kepada The Wall Street Journal bahwa perusahaannya harus menaikkan harga untuk mengimbangi lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan.

Sementara itu, Accenture justru terperosok. Penyedia layanan TI ini memangkas panduan pertumbuhan pendapatan setahun penuh dan menggelontorkan lebih dari USD4 miliar untuk serangkaian akuisisi di bidang keamanan siber. Langkah tersebut dinilai investor sebagai sinyal perlambatan.

Volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan di Wall Street pada Kamis. Pasalnya, hari itu menandai peristiwa Triple Witching sebuah fenomena triwulanan di mana opsi saham, opsi indeks saham, dan kontrak berjangka indeks saham berakhir secara bersamaan. Biasanya jatuh pada hari Jumat, peristiwa ini dimajukan satu hari karena libur Juneteenth. Dengan sekitar USD8,3 triliun opsi yang akan berakhir, hari ini mencatatkan Triple Witching terbesar dalam sejarah. Nikolaos Panigirtzoglou dari JPMorgan memperkirakan akan ada penjualan saham dan pembelian obligasi senilai sekitar USD165 miliar akibat penyeimbangan kembali portofolio di akhir kuartal kedua dan paruh pertama tahun ini.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar