Pemimpin Tertinggi Iran Tuding Trump Putus Asa di Balik MoU Damai dengan AS

- Jumat, 19 Juni 2026 | 06:15 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Tuding Trump Putus Asa di Balik MoU Damai dengan AS

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa para pejabat negaranya telah melakukan upaya besar dengan penuh belas kasih dan niat baik untuk mencapai nota kesepahaman dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, ia menuding Presiden AS Donald Trump menggunakan berbagai titik tawar karena berada dalam posisi putus asa.

"Bangsa Iran yang penuh semangat dan setia, seperti yang telah Anda ketahui, sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani antara presiden Iran dan Amerika," ujar Ayatollah Khamenei dalam pesan yang dirilis pada Kamis, 18 Juni 2026. Pernyataan itu dikutip dari media setempat pada Jumat, 19 Juni 2026.

"Dalam proses mencapai tahap ini, para pejabat, dengan penuh belas kasih dan niat baik, telah melakukan banyak upaya, dan tentu saja presiden AS-lah yang, karena putus asa, menggunakan berbagai titik tawar untuk tujuan ini," ungkapnya.

Nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tersebut ditandatangani secara jarak jauh oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump. Dokumen itu menyerukan penghentian permanen permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS dalam waktu 30 hari, pemulihan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz, rencana rekonstruksi senilai setidaknya 300 miliar dolar AS, serta pencabutan sanksi yang dijatuhkan Washington terhadap Teheran.

Ayatollah Khamenei mengakui bahwa awalnya ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap perjanjian tersebut. Namun, ia akhirnya mengesahkan kesepakatan itu berdasarkan komitmen yang dibuat oleh Presiden Pezeshkian. Sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Pezeshkian berjanji atas nama dirinya dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan front perlawanan.

Presiden Pezeshkian juga menyatakan bahwa ia tidak akan menerima tuntutan AS yang berlebihan, kata Pemimpin Tertinggi. "Mulai saat ini, kita yang berarti Anda, bangsa yang bangga, dan hamba yang rendah hati ini akan menunggu pemenuhan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Tetapi jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan berlangsung di masa mendatang tidak akan berarti menerima pandangan musuh," tegas Ayatollah Khamenei.

"Kami berharap doa-doa mulia dari Guru kami (Imam Mahdi) akan membawa segala macam kemenangan dan kejayaan bagi bangsa Iran yang terhormat," ucapnya menambahkan.

Berdasarkan isi MoU tersebut, kedua pihak kini memasuki periode negosiasi selama 60 hari dengan tujuan mencapai kesepakatan akhir yang komprehensif. Negosiasi tatap muka dijadwalkan akan dimulai pada 19 Juni di Swiss, dengan Pakistan dan Qatar bertindak sebagai mediator. Kesepakatan ini muncul setelah perang yang disebut sebagai aksi terorisme AS-Israel yang tidak beralasan terhadap Iran, yang dimulai pada akhir Februari.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags