Pupuk Kaltim Rehabilitasi 2,23 Hektare Terumbu Karang di Bontang, Tembus Forum Internasional

- Senin, 03 Agustus 2026 | 09:54 WIB
Pupuk Kaltim Rehabilitasi 2,23 Hektare Terumbu Karang di Bontang, Tembus Forum Internasional

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) telah merehabilitasi terumbu karang seluas 2,23 hektare di perairan Tebok Batang, Kota Bontang, hingga 2025. Program yang berjalan sejak 2011 ini menjadi salah satu upaya perusahaan menjaga keberlanjutan ekosistem laut melalui pendekatan berbasis sains, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Upaya konservasi itu mendapat pengakuan internasional. Pupuk Kaltim menjadi delegasi Indonesia pada 16th International Coral Reef Symposium (ICRS) di Auckland, Selandia Baru, pada 19–24 Juli 2026. Dalam forum yang dihadiri lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara tersebut, perusahaan pelat merah ini menjadi satu-satunya industri nasional yang mewakili Indonesia.

Perwakilan delegasi Pupuk Kaltim, Astri Agustina, mengatakan perusahaan mempresentasikan dua karya ilmiah yang mengangkat pengalaman restorasi terumbu karang di Tebok Batang. Kedua karya tersebut berjudul Quindecennial Consecutively Collaborative Coral Restoration dan Integration Coral Restoration through Long-Term Stakeholder Engagement and its Independence Governance.

"Dua karya tersebut mengangkat pendekatan komprehensif Pupuk Kaltim dalam mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, tata kelola, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat dalam restorasi terumbu karang," ujar Astri.

Menurut Astri, program rehabilitasi dimulai setelah lebih dari 50 persen terumbu karang di perairan Bontang mengalami kerusakan akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Sebagai langkah pemulihan, Pupuk Kaltim membangun modul terumbu buatan dan melakukan transplantasi karang melalui pemberdayaan masyarakat pesisir, disertai pemantauan ekologi dan sosial secara berkelanjutan.

Rehabilitasi dilakukan menggunakan tiga tipe modul terumbu buatan, yakni Pyramid, Cube, dan Dome, yang dirancang untuk mendukung penempelan karang sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati selama pelaksanaan program.

Hingga 2025, kawasan rehabilitasi yang dikelola Pupuk Kaltim di Tebok Batang telah mencapai 2,23 hektare dari total 10 hektare area yang diizinkan melalui Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Seiring program tersebut, populasi ikan karang meningkat menjadi 57 familia, sementara populasi karang tercatat mencapai 69 genus.

Saat ini, Tebok Batang berkembang menjadi salah satu model konservasi berbasis kolaborasi yang tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem laut, tetapi juga pemberdayaan masyarakat pesisir. Kelompok nelayan dilibatkan dalam pembangunan terumbu buatan, penenggelaman modul, hingga pemantauan berkala.

"Pengalaman Pupuk Kaltim menunjukkan keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan teknologi yang digunakan, tapi juga kesinambungan pemantauan serta adaptasi pengelolaan berdasarkan hasil evaluasi lapangan," kata Astri.

Selama lebih dari satu dekade, Pupuk Kaltim telah memasang ribuan modul terumbu buatan sebagai bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan. Program tersebut difokuskan pada peningkatan keanekaragaman hayati, rehabilitasi habitat laut, serta mendukung mitigasi perubahan iklim dan dekarbonisasi.

"Melalui ICRS 2026, kami ingin menunjukkan sektor industri dapat mengambil peran strategis mendukung konservasi laut secara berkelanjutan. Apa yang kami lakukan di Tebok Batang dapat menjadi referensi maupun direplikasi oleh berbagai pihak dalam upaya yang sama," ujar Astri.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, mengatakan keikutsertaan perusahaan dalam ICRS 2026 menjadi komitmen perseroan menjalankan prinsip ESG sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 14 (Life Below Water).

"Kami sampaikan apresiasi kepada delegasi Pupuk Kaltim yang telah mewakili Indonesia pada forum ICRS. Ini menunjukkan inisiatif keberlanjutan yang lahir dari operasional perusahaan, mampu memberi kontribusi nyata dan memperoleh pengakuan dari komunitas global," ujar Anggono.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags