Pemimpin Tertinggi Iran Peringatkan Negosiasi dengan AS Tak Berarti Menerima Pandangan Musuh

- Jumat, 19 Juni 2026 | 04:10 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Peringatkan Negosiasi dengan AS Tak Berarti Menerima Pandangan Musuh

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya angkat bicara mengenai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah, ia menegaskan bahwa negosiasi tatap muka yang akan dilakukan di masa mendatang tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk penerimaan terhadap sudut pandang musuh.

“Jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan dilakukan di masa mendatang tidak berarti menerima sudut pandang musuh,” kata Khamenei dalam sebuah pesan yang dibacakan di televisi pemerintah, sebagaimana dilansir AFP pada Jumat (19/6/2026).

Pernyataan ini merupakan respons pertama pemimpin tertinggi Iran terhadap kesepakatan yang mengakhiri perang antara Iran dan AS yang pecah pada akhir Februari lalu. Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik apa yang ia sebut sebagai kesepakatan “bersejarah” dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik bersenjata tersebut.

“Ini adalah dokumen bersejarah dan pesan dari Iran yang kuat: perdamaian akan tercapai di bawah naungan rasa saling menghormati,” tulis Pezeshkian dalam unggahan media sosial yang menampilkan gambar dokumen kesepakatan, seperti dilaporkan AFP pada Kamis (18/6/2026).

Dokumen tersebut memuat tanda tangan Pezeshkian serta Presiden AS Donald Trump dan mediator mereka, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Trump menandatangani nota kesepahaman Iran-AS saat makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, setelah pertemuan KTT G7 pada Rabu (17/6) malam waktu setempat.

“Baru saja menandatanganinya,” ujar Trump saat keluar dari istana, sebagaimana dilansir AFP pada Kamis (18/6/2026).

Secara terpisah, pemerintah Iran juga mengonfirmasi telah menandatangani dokumen kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden.

“Sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut,” kata Baqaei, seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.

Namun, ia memperingatkan bahwa implementasi perjanjian gencatan senjata dengan Amerika Serikat akan lebih sulit daripada penandatanganannya. Baqaei menekankan bahwa Teheran tidak melupakan pelajaran dari perang tersebut dan akan memantau dengan cermat kepatuhan AS terhadap isi perjanjian.

“Fakta bahwa kita telah menandatangani perjanjian untuk mengakhiri perang pada tahap ini tidak berarti kita telah melupakan masa lalu atau meninggalkan pelajaran berharga yang telah kita pelajari,” tegas Baqaei.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar