Kesepakatan Damai Iran-AS Masih Simpang Siur, Teks Perjanjian Belum Dipublikasikan

- Rabu, 17 Juni 2026 | 05:50 WIB
Kesepakatan Damai Iran-AS Masih Simpang Siur, Teks Perjanjian Belum Dipublikasikan

Rencana perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat masih diselimuti ketidakjelasan, meskipun Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa kesepakatan tersebut telah ditandatangani. Hingga saat ini, teks perjanjian damai yang disebut-sebut sebagai tonggak baru dalam hubungan kedua negara itu belum juga dipublikasikan secara resmi, menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat internasional.

Wakil Presiden AS, Vance, dalam wawancaranya dengan NBC News, mengungkapkan bahwa salah satu klausul utama dalam kesepakatan tersebut mewajibkan kembalinya pengawas nuklir ke Iran. Ia menegaskan bahwa hal ini merupakan inti dari perjanjian awal yang telah diteken, sehingga dokumen lengkap belum bisa dibeberkan ke publik.

“Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan Amerika Serikat akan membantu Iran menghancurkan persediaan uranium yang sangat diperkaya. Itu adalah sesuatu yang dijelaskan dengan sangat jelas dalam nota kesepahaman (MoU),” ujar Vance. Ia menambahkan bahwa jadwal untuk inspeksi nuklir dapat dirumuskan pada hari Jumat mendatang.

“Karena ada kesepakatan luas tentang hal ini, tidak banyak perbedaan pendapat tentang masalah khusus ini. Itu seharusnya terjadi dengan sangat cepat,” imbuh wakil presiden tersebut, mencoba meredam spekulasi mengenai kerumitan teknis di lapangan.

Namun, pernyataan dari pihak Iran justru menunjukkan adanya jarak pandang yang cukup lebar. Para pejabat Iran sebelumnya menegaskan bahwa negosiasi lebih lanjut mengenai masalah nuklir baru akan digelar setelah perjanjian awal ditandatangani. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, saat mengumumkan MoU pada hari Senin, secara eksplisit menyatakan bahwa “negosiasi untuk perjanjian akhir akan ditunda hingga pihak lain memenuhi kewajibannya berdasarkan” kesepakatan awal tersebut.

Sementara itu, kesepakatan damai ini pertama kali diumumkan secara mengejutkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Senin (15/6). Sharif menyatakan bahwa Washington dan Teheran sepakat untuk menyatakan penghentian “segera dan permanen” untuk pertempuran di semua front, termasuk Lebanon. Pernyataan dari pihak ketiga ini justru menambah dinamika baru dalam diplomasi yang masih belum sepenuhnya transparan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar