Hizbullah Tolak Syarat Gencatan Senjata dengan Israel, Sebut Kesepakatan Sia-sia dan Memalukan

- Jumat, 05 Juni 2026 | 10:15 WIB
Hizbullah Tolak Syarat Gencatan Senjata dengan Israel, Sebut Kesepakatan Sia-sia dan Memalukan

Kelompok militan Hizbullah secara terbuka menolak persyaratan yang diajukan dalam kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Penolakan itu disampaikan langsung oleh pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, yang menyebut ketentuan dalam perjanjian tersebut sebagai sesuatu yang sia-sia dan memalukan.

"Hal tersebut sia-sia dan memalukan," kata Naim Qassem dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa sebagian besar rakyat Lebanon juga menolak kesepakatan itu.

Pekan ini, Israel dan Lebanon secara resmi mengumumkan pembaruan atas gencatan senjata yang selama ini berlangsung rapuh. Salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut mewajibkan Hizbullah untuk menghentikan seluruh serangan terhadap Israel dan menarik diri dari wilayah Lebanon selatan yang selama ini menjadi basis utama kelompok itu. Meskipun menjadi aktor utama dalam konflik, Hizbullah tidak dilibatkan dalam proses negosiasi.

Sementara itu, media Lebanon melaporkan bahwa Israel tetap melancarkan serangan ke Lebanon selatan pada Kamis, sehari setelah pembaruan gencatan senjata diumumkan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya delapan orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam serangkaian serangan yang menargetkan kota Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil.

Di sisi lain, Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon, UNIFIL, mengonfirmasi bahwa salah satu personelnya tewas akibat hantaman peluru mortir di dekat Marjayoun pada Rabu malam. Insiden ini menambah panjang daftar korban dalam eskalasi kekerasan yang terus berlangsung.

Lebanon terseret ke dalam pusaran konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Hizbullah sendiri merupakan salah satu sekutu utama Iran di kawasan. Israel kemudian merespons dengan kampanye udara di seluruh wilayah Lebanon serta invasi darat di bagian selatan.

Gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat pada 16 April gagal menghentikan pertempuran. Pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militernya untuk mengintensifkan serangan terhadap Hizbullah dan memperluas operasi darat lebih dalam ke Lebanon. Langkah itu disebut sebagai respons terhadap serangan pesawat nirawak dan roket yang menargetkan wilayah Israel utara.

Perwakilan dari kedua negara dijadwalkan kembali bertemu pada 22 Juni untuk melanjutkan pembicaraan dengan tujuan mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif. Namun, dengan sikap Hizbullah yang menolak keras syarat gencatan senjata, prospek perdamaian masih diselimuti ketidakpastian.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar