Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan bahwa harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia akan ditetapkan di atas harga eceran tertinggi (HET) domestik. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya meningkatkan perekonomian nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di dalam negeri.
Penetapan harga tersebut, menurut Rizal, merupakan tindak lanjut dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Dalam instruksinya, Presiden menekankan agar ekspor beras tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi petani dan penerimaan negara. “Karena sesuai arahan Bapak Presiden kemarin, harga yang kita ekspor harus menguntungkan untuk petani, untuk bangsa dan negara kita,” ujar Rizal saat ditemui usai acara pemotongan hewan kurban di Jakarta, Jumat.
Rizal mengungkapkan bahwa harga ekspor beras Indonesia berpotensi melampaui penawaran awal dari pihak Malaysia yang berada di kisaran Rp16.000 per kilogram. “Ya, insya Allah seperti itu ya (harga ekspor beras di atas Rp16.000 per kilogram),” katanya, menegaskan optimisme terhadap nilai jual yang lebih kompetitif.
Sementara itu, untuk mematangkan rencana tersebut, Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian berencana melakukan kunjungan ke Sarawak, Malaysia, setelah perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Kunjungan ini bertujuan untuk memverifikasi jumlah kebutuhan beras yang akan diekspor serta membahas komposisi harga dan skema perdagangan yang paling menguntungkan bagi kedua negara. “Rencana habis Idul Adha ini dalam waktu dekat kami akan ke Sarawak, insya Allah dengan tim dari Kementerian Pertanian, untuk sekaligus memastikan berapa jumlahnya dan berapa harga fiksnya,” jelas Rizal.
Pembahasan teknis juga akan mencakup mekanisme pengiriman, apakah akan menggunakan skema pelabuhan ke pelabuhan atau pembelian langsung di Pelabuhan Priok, Jakarta. Rizal menambahkan bahwa keputusan ini akan didiskusikan lebih lanjut dengan mitra di Malaysia agar proses ekspor berjalan efektif dan memberikan keuntungan optimal bagi kedua belah pihak. “Nanti kita setelah diskusi di sana (Malaysia), apakah kita port to port atau mereka langsung beli di kita di Pelabuhan Priok,” bebernya.
Meski demikian, Rizal menyebut bahwa Bulog masih akan berdiskusi dengan jajarannya, terutama direktur pemasaran, serta Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk menentukan harga terbaik sebelum ekspor resmi dilakukan. “Ini untuk minta petunjuk yang terbaik seperti apa,” ujarnya.
Sebagai gambaran, harga eceran tertinggi beras premium di dalam negeri saat ini berada pada kisaran Rp14.900 hingga Rp15.800 per kilogram, tergantung pada zonasi wilayah yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional. Dengan harga ekspor yang direncanakan di atas angka tersebut, Bulog optimistis langkah ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan pangan regional sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional.
Sebelumnya, dalam peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Presiden Prabowo Subianto secara langsung menyinggung kesiapan Bulog menghadapi peluang ekspor. Di tengah pidatonya, Presiden memanggil Direktur Utama Perum Bulog yang berada di bawah panggung dan mengingatkan agar beras Indonesia tidak dijual terlalu murah saat masuk ke pasar ekspor.
Artikel Terkait
19 Mobil Golf Dikerahkan Bantu Jemaah Haji Indonesia yang Kelelahan dan Tersesat di Mina
Presiden Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Paris, Pulang ke Indonesia
Fajar/Fikri Kalahkan Ganda Malaysia, Tantangan Berat dari China Menanti di Semifinal Singapore Open 2026
KPK Segera Limpahkan Berkas Dakwaan Bupati Pati Nonaktif Sudewo ke PN Semarang