Transaksi Saham di Wilayah OJK Malang Tembus Rp3,77 Triliun pada Maret 2026, Melonjak 59 Persen

- Jumat, 29 Mei 2026 | 09:00 WIB
Transaksi Saham di Wilayah OJK Malang Tembus Rp3,77 Triliun pada Maret 2026, Melonjak 59 Persen

Nilai transaksi saham di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang menembus angka Rp3,772 triliun pada Maret 2026, melonjak 59,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini tidak hanya terjadi pada nilai transaksi, tetapi juga diikuti oleh peningkatan frekuensi dan volume perdagangan saham.

Kepala Kantor OJK Malang, Farid Faletehan, mengungkapkan bahwa frekuensi transaksi saham tercatat meningkat 5,98 persen secara tahunan, sementara volume transaksi naik 1,08 persen. Menurutnya, pertumbuhan ini mencerminkan semakin aktifnya aktivitas perdagangan saham di wilayah tersebut.

“Nilai transaksi saham meningkat 59,26 persen year-on-year, sedangkan frekuensi transaksi saham dan volume transaksi saham meningkat masing-masing sebesar 5,98 persen dan 1,08 persen secara tahunan,” ujar Farid dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).

Di sisi lain, jumlah investor pasar modal di wilayah kerja Kantor OJK Malang juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hingga 31 Maret 2026, total Single Investor Identification (SID) mencapai 476.091, tumbuh 56,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Farid menambahkan, peningkatan tertinggi terjadi pada SID S-INVEST yang mencapai 451.107, atau naik 56,59 persen secara tahunan. S-INVEST sendiri merupakan platform elektronik yang memfasilitasi penyelesaian transaksi reksa dana dan produk investasi lainnya.

Sementara itu, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai bahwa peningkatan transaksi saham tersebut ditopang oleh masuknya investor-investor baru. Menurutnya, literasi keuangan yang semakin baik di masyarakat turut mendorong minat terhadap pasar saham sebagai instrumen investasi yang menarik dan mudah diakses berkat dukungan berbagai platform digital.

Namun, Joko mengingatkan bahwa kondisi pada Maret 2026 belum sepenuhnya merepresentasikan situasi terkini, di mana pasar saham tengah mengalami tekanan dan pelemahan nilai tukar rupiah. Meski demikian, ia melihat situasi ini justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk membeli saham, mengingat potensi rebound yang cukup besar seiring dengan intervensi pemerintah yang terus dilakukan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar