Nilai tukar rupiah diproyeksikan terus tertekan hingga menembus level Rp17.850 per dolar Amerika Serikat pada pekan depan. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini datang dari tiga sisi sekaligus, yaitu penguatan indeks dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Dalam analisisnya, indeks dolar diperkirakan bergerak pada level support 97,300 dan resistance di 101,100. Kondisi ini membuat investor global cenderung memburu dolar sebagai aset aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Rupiah kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan masih akan terus mengalami pelemahan. Bisa saja di level Rp17.800-an bahkan Rp17.850 per USD," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Menurut Ibrahim, harga minyak jenis WTI masih berpotensi naik dengan level support di USD91,6 per barel dan resistance di USD110,6 per barel. Kenaikan ini meningkatkan kebutuhan impor energi dan permintaan dolar AS di pasar domestik, yang pada akhirnya memperberat nilai tukar rupiah.
"Artinya indeks dolar dan harga minyak ini masih akan menguat di minggu depan. Ini tentu memberi tekanan tambahan terhadap mata uang rupiah," katanya.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian utama pelaku pasar global. Ibrahim menjelaskan, konflik antara Iran dan Israel serta situasi di Selat Hormuz berpotensi mengganggu jalur distribusi energi. Apabila ketegangan meningkat, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi dan memperkuat tekanan terhadap mata uang negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Ibrahim menambahkan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi di AS masih kuat. Hal ini mendorong bank sentral global untuk kemungkinan menaikkan suku bunga secara bersamaan sebagai respons terhadap tekanan inflasi dan penguatan dolar.
"Kita ada ketakutan bahwa penguatan indeks dolar dan menguatnya harga minyak mentah dunia ini akan berdampak terhadap bank sentral global yang kemungkinan besar menaikkan suku bunga secara berjamaah," kata dia.
Artikel Terkait
Yuran Fernandes Tebus Diri, Gol Kapten PSM Samakan Kedudukan Lawan Persib di Parepare
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Persib Ungguli PSM di Babak Pertama, Selangkah Lagi Raih Hattrick Gelar Super League
Pefindo Tetapkan Peringkat idAA+ untuk Indofood, Prospek Stabil