Presiden Prabowo Subianto memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menilai sosoknya sebagai aset berharga bagi bangsa berkat dedikasi tanpa henti dalam mengawal sektor pertanian nasional. Dalam penilaian Presiden, Indonesia dinilai sangat beruntung memiliki seorang menteri yang lahir dari keluarga petani, sehingga memahami secara langsung denyut nadi persoalan di lapangan dan bekerja tanpa mengenal waktu.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Negara saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5). Di hadapan hadirin, Presiden Prabowo secara khusus menyoroti etos kerja Menteri Amran yang selalu bergerak cepat dan berada di lokasi-lokasi strategis.
“Beruntung kita punya Menteri Pertanian yang hebat. Karena dia memang anaknya petani. Tiap saya telepon ada di sini, ada di situ. Ini menteri yang hebat. Terima kasih,” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.
Apresiasi serupa juga ditujukan Presiden kepada seluruh jajaran Kementerian Pertanian, termasuk Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Menurut Presiden, kontribusi keduanya semakin memperkuat fondasi sektor pertanian tanah air.
“Timnya juga hebat. Wakil menterinya juga hebat. Anak petani jadi mengerti, tidak bisa dibohongi,” tegasnya.
Di balik pujian tersebut, terdapat sederet capaian konkret yang dinilai lahir dari kerja cepat tim pertanian. Dalam kurun waktu setahun terakhir, Indonesia berhasil mencatatkan peningkatan produksi pada sejumlah komoditas strategis, memperkuat stok pangan nasional, serta mempercepat langkah menuju swasembada pangan. Produksi beras nasional pada tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton tanpa impor beras medium, sementara stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus level tertinggi hingga lebih dari 5,3 juta ton pada Mei 2026.
Berbagai langkah strategis terus digencarkan, mulai dari optimalisasi lahan, percepatan tanam, modernisasi pertanian, penguatan benih unggul, hingga penyederhanaan distribusi pupuk. Semua upaya itu diarahkan untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan ancaman krisis pangan.
Menariknya, di tengah tekanan global tersebut, Indonesia justru berada pada posisi yang lebih kuat. Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa banyak negara kini mulai melirik Indonesia, tidak hanya untuk kebutuhan pangan, tetapi juga pasokan pupuk.
“Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian, banyak negara minta pupuk dari Indonesia. Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada di pihak yang bisa memberi bantuan,” ujarnya.
Presiden menyebutkan sejumlah negara yang telah meminta pasokan pupuk dari Indonesia, antara lain Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil. “Australia minta tolong kita. Kita jual pupuk ke Australia 500 ribu ton urea. Filipina juga minta ke kita, kemudian India minta ke kita, Bangladesh minta ke kita, Brasil minta ke kita. Perintah saya bantu semua,” katanya.
Tidak hanya pupuk, permintaan beras dari berbagai negara juga mulai mengalir. Menurut Presiden, kondisi tersebut tidak akan terwujud tanpa penguatan sektor pertanian dalam beberapa tahun terakhir. “Bayangkan kalau kita tidak swasembada. Kalau kita tidak buru-buru bereskan masalah pertanian,” ujarnya.
Sebelumnya, Indonesia telah mencatat tonggak penting melalui kerja sama ekspor pupuk urea ke Australia dengan komitmen awal 250.000 ton yang ditargetkan meningkat menjadi 500.000 ton, dengan nilai mencapai sekitar Rp7 triliun. Langkah ini menandai semakin kokohnya posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan dan pupuk global.
Artikel Terkait
Seabad Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia: Antara Pencetak Sarjana Normatif dan Kebutuhan Penegak Hukum Berintegritas
30 Ribu Calon Jemaah Haji Berangkat via Bandara Soetta dengan Layanan Mecca Route
Arus Balik Libur Kenaikan Yesus Kristus, Volume Kendaraan Menuju Jakarta Melonjak Hingga 19 Persen
Transjakarta Siapkan Rute Terintegrasi Menuju Indonesia Arena GBK