Gregoria Mariska Tunjung Mundur dari Pelatnas PBSI Usai Berjuang Melawan Vertigo

- Jumat, 15 Mei 2026 | 18:15 WIB
Gregoria Mariska Tunjung Mundur dari Pelatnas PBSI Usai Berjuang Melawan Vertigo

Kabar mengejutkan datang dari dunia bulu tangkis nasional. Gregoria Mariska Tunjung, pebulu tangkis tunggal putri andalan Indonesia, resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada Jumat, 15 Mei 2026. Keputusan ini menandai berakhirnya perjalanan panjang atlet berusia 26 tahun itu setelah kurang lebih 12 tahun menjadi bagian dari skuad nasional di Pelatnas Cipayung.

Perjalanan Gregoria di dunia bulu tangkis dimulai dari kota kelahirannya, Wonogiri, Jawa Tengah, pada 11 Agustus 1999. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan besar pada olahraga tepok bulu dan mengidolakan legenda tunggal putra Indonesia, Taufik Hidayat. Bakatnya yang terlihat sejak dini membuat sang ayah mendorongnya untuk serius menekuni bulu tangkis, setelah sebelumnya sempat belajar karate. Karier profesionalnya kemudian berlanjut ketika ia bergabung dengan PB Mutiara Cardinal di Bandung, sebelum akhirnya diterima di Pelatnas Cipayung pada tahun 2013.

Nama Gregoria mulai mencuri perhatian publik saat ia bersinar di level junior. Pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, ia berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia. Setahun sebelumnya, ia juga meraih medali perak di Kejuaraan Asia Junior 2016 di Bangkok, Thailand. Puncak prestasinya di level junior terjadi pada tahun yang sama saat ia mencatatkan sejarah sebagai juara tunggal putri di Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017 yang digelar di Yogyakarta. Prestasi tersebut menjadi yang pertama bagi Indonesia sejak Kristin Yunita menjuarai ajang serupa pada 1992 di Jakarta.

Debut Gregoria di panggung Olimpiade terjadi pada Tokyo 2020, meskipun langkahnya harus terhenti di babak 16 besar. Namun, kerja keras dan ketekunannya akhirnya membuahkan hasil manis di panggung yang lebih bergengsi. Pada Olimpiade Paris 2024, Gregoria berhasil meraih medali perunggu, sebuah pencapaian yang mengakhiri penantian panjang Indonesia selama 16 tahun untuk mendapatkan medali di sektor tunggal putri. Ia menjadi atlet pertama yang mampu menyumbang perunggu sejak Maria Kristin Yulianti melakukannya di Olimpiade Beijing 2008.

Di sisi lain, kiprah Gregoria mulai tersendat sejak April 2025 akibat penyakit vertigo yang dideritanya. Kondisi kesehatannya yang memburuk memaksanya untuk batal memperkuat tim Indonesia di ajang Sudirman Cup 2025. Sejak saat itu, ia hanya mampu mengikuti tujuh turnamen. Penyakit vertigo yang dialaminya tergolong parah, dengan setiap serangan berlangsung hingga lima jam, disertai muntah dan kehilangan keseimbangan, serta datang secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi.

Kondisi kesehatan yang masih dalam proses pemulihan inilah yang menjadi alasan utama di balik keputusan Gregoria untuk mundur dari Pelatnas. Langkah ini diambil demi memprioritaskan pemulihan fisiknya di tengah ketidakpastian jadwal kompetisi yang padat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar