Pertemuan Xi-Trump di Beijing Dinilai Lebih Sarat Diplomasi Simbolik daripada Kesepakatan Konkret

- Jumat, 15 Mei 2026 | 08:40 WIB
Pertemuan Xi-Trump di Beijing Dinilai Lebih Sarat Diplomasi Simbolik daripada Kesepakatan Konkret

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing dinilai lebih sarat dengan muatan diplomasi simbolik ketimbang menghasilkan kesepakatan strategis yang konkret. Pandangan tersebut disampaikan oleh Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Asra Virgianita, yang mengamati dinamika pertemuan kedua pemimpin negara adidaya itu.

Menurut Asra, bagi pemerintahan Xi Jinping, momen ini menjadi panggung untuk menunjukkan kepada komunitas internasional dan publik domestik bahwa China tetap menjadi aktor yang relevan dan diakui oleh Amerika Serikat sebagai mitra strategis. “Pertemuan Xi-Trump di Beijing lebih banyak menghadirkan diplomasi simbolik ketimbang hasil substantif,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/5/2026). Ia menambahkan, agenda tersebut sekaligus menegaskan status China sebagai kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh negara mana pun.

Dalam kesempatan itu, Xi Jinping menyampaikan pernyataan mengenai pentingnya hubungan China dan AS yang sebaiknya berjalan dalam bingkai kemitraan, bukan rivalitas. Asra menilai pernyataan tersebut merupakan bagian dari strategi Beijing untuk menggeser narasi persaingan menuju kerja sama. “Hal itu penting untuk menampilkan citra China sebagai aktor yang konstruktif di mata dunia,” jelasnya.

Sementara itu, dari sisi Trump, pertemuan ini menjadi ajang untuk menegaskan kembali pengaruh AS terhadap arah kebijakan China. Salah satu isu yang mengemuka adalah posisi Beijing terkait Iran dan Selat Hormuz. “Karena China merupakan importir minyak terbesar dari kawasan tersebut, Trump meyakini China memiliki leverage untuk menekan Iran terkait blokade Selat Hormuz,” kata Asra.

Di luar agenda diplomatik, pujian yang dilontarkan Trump kepada Xi Jinping juga tidak luput dari analisis. Asra menilai hal itu merupakan upaya membangun kedekatan sekaligus menciptakan suasana positif di tengah perbedaan kepentingan kedua negara. Kehadiran sejumlah tokoh bisnis global seperti Elon Musk, Jensen Huang, dan Tim Cook dalam pertemuan tersebut turut memperkuat dimensi ekonomi dan teknologi sebagai bagian integral dari negosiasi bilateral.

Asra menambahkan, pertemuan ini juga menjadi panggung bagi Trump untuk membangun citra dirinya di hadapan publik domestik Amerika Serikat. “Hal penting lainnya bagi Trump adalah menampilkan figur dirinya kepada publik domestik AS sebagai ‘deal maker’ yang mampu bernegosiasi dengan rival strategis. Hal ini krusial bagi Trump menjelang pemilu Oktober, di mana citra kepemimpinan menjadi salah satu sorotan publik AS,” tuturnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags