Indonesia Peringkat Ketiga Negara dengan Risiko Bencana Tertinggi di Dunia, BNPB Tekankan Kesiapsiagaan Daerah

- Selasa, 12 Mei 2026 | 08:50 WIB
Indonesia Peringkat Ketiga Negara dengan Risiko Bencana Tertinggi di Dunia, BNPB Tekankan Kesiapsiagaan Daerah

Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia, sekaligus berada di posisi keempat sebagai negara yang paling terpapar bencana berdasarkan data Bank Dunia. Posisi tersebut menempatkan Indonesia dalam kelompok 35 negara dengan risiko bencana paling parah secara global.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan bahwa hanya Filipina yang berada di atas Indonesia dalam hal risiko bencana. “Meski negara lebih kecil, tapi bedanya Filipina menjadi langganan angin topan. Ingat, kita masih punya Kepulauan Talaud di Sulawesi Utara yang sangat dekat dengan Filipina. Ini yang harus kita pahami betul,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Selasa (12/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan Suharyanto saat memberikan arahan kepada para Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Indonesia dalam agenda Senior Disaster Management Training (SDMT) di Aula Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Jakarta, pada Senin (11/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak peserta untuk menyadari bahwa di balik bentang alam yang indah dan kekayaan alam melimpah, Indonesia menyimpan potensi ancaman bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Berbagai jenis bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, hingga banjir dan tanah longsor, kerap melanda negeri ini. Bahkan, dunia internasional menjuluki Indonesia sebagai “laboratorium bencana”. Namun, Suharyanto menegaskan bahwa predikat tersebut bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan dalam penanggulangan bencana.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kapasitas para pemimpin penanggulangan bencana di daerah untuk membaca situasi secara cepat dan tepat, serta mampu mengambil keputusan terukur saat menghadapi kondisi darurat. “Hampir tidak ada wilayah di Indonesia yang betul-betul aman. Kalimantan memang cenderung lebih aman dari gempa bumi dan tsunami menurut data. Tapi ingat, di sana karhutla selalu menjadi ancaman setiap tahun,” kata Suharyanto.

Sebanyak 67 peserta SDMT BNPB Batch III yang hadir merupakan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka dipersiapkan menjadi pemegang tongkat komando penanggulangan bencana di wilayah masing-masing, baik yang baru menjabat hitungan bulan maupun yang telah lebih dari satu tahun menduduki posisi Kepala Pelaksana BPBD.

Dalam pembekalan tersebut, Suharyanto menyampaikan materi mengenai penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan sebagai langkah utama dalam mengurangi risiko bencana serta melindungi masyarakat. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh terhadap bencana. “Penanggulangan bencana ini sudah menjadi bagian dari program prioritas Presiden,” ujarnya.

Melalui paparannya, Suharyanto mengajak seluruh peserta meninjau kembali berbagai kejadian bencana besar yang pernah terjadi di Indonesia. Pembelajaran dari peristiwa masa lalu dinilai sangat penting agar penanganan ke depan semakin efektif, sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian materiil dapat diminimalkan. Ia menekankan bahwa hal sekecil apa pun, seperti pemberian sosialisasi, memiliki peran krusial. Sebab, sistem manajemen peringatan dini tidak bisa berdiri sendiri; masyarakat harus mampu memahami tanda bahaya dan mengetahui langkah yang harus diambil untuk mencegah jatuhnya korban fatal.

Suharyanto kemudian mengajak peserta mengulas peristiwa erupsi Gunung Dukono dan Marapi pada 2023 silam. Ia mengingatkan bahwa tanggung jawab untuk mencegah jatuhnya korban jiwa kini berada di pundak para peserta SDMT yang mewakili daerahnya masing-masing. “Yang baru saja terjadi kemarin, Gunung Dukono. Statusnya level II atau Waspada. Sudah ada larangan di sana untuk menjauhi radius empat kilometer, tapi masih ada yang nekat. Akhirnya jatuh korban. Kita tidak ingin hal ini terulang. Sosialisasi menjadi hal yang harus disampaikan terus-menerus, dan itu bagian dari tugas kita semua yang ada di sini,” kata Suharyanto.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar