IHSG Berhasil Pangkas Pelemahan Setelah Pemerintah Sinyalkan Penundaan Kenaikan Royalti Tambang

- Selasa, 12 Mei 2026 | 06:00 WIB
IHSG Berhasil Pangkas Pelemahan Setelah Pemerintah Sinyalkan Penundaan Kenaikan Royalti Tambang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memangkas laju pelemahannya pada perdagangan Senin lalu setelah pemerintah memberikan sinyal akan menunda kenaikan royalti di sektor pertambangan mineral. Sentimen ini, menurut analis, membantu meredakan tekanan pasar yang sebelumnya sempat membawa IHSG jatuh hingga 1,76 persen ke level 6.847 menjadi titik terendah sejak awal tahun 2026. Meskipun demikian, pada penutupan perdagangan, IHSG masih tercatat melemah 0,92 persen.

Di balik perbaikan tersebut, pergerakan indeks tetap dibayangi sentimen negatif yang berasal dari sektor perbankan dan saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pemberat utama setelah mengalami koreksi seiring dengan ex-date dividen. Pelemahan juga datang dari saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Dari total 912 saham yang diperdagangkan, hanya 251 saham yang berhasil mencatatkan penguatan.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah akan menunda kenaikan royalti pertambangan sambil menyusun formula baru yang dinilai lebih seimbang bagi negara maupun pelaku usaha. Menurut Bahlil, pemerintah masih membuka ruang dialog dengan pelaku industri untuk mencari skema win-win solution terkait kebijakan tersebut. Pernyataan itu muncul setelah Kementerian ESDM mengumumkan rencana kenaikan royalti untuk sejumlah komoditas mineral seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, analis dari Stockbit menilai bahwa pergerakan IHSG belakangan ini tidak hanya dipengaruhi oleh isu royalti tambang, tetapi juga tekanan eksternal lain. Pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya risiko fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut membebani pasar. Kekhawatiran semakin bertambah karena harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel akibat mandeknya negosiasi penghentian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Di sisi lain, pelaku pasar cenderung mengambil posisi wait and see karena pekan perdagangan yang lebih singkat serta menanti hasil quarterly rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 12 Mei 2026. Stockbit memperkirakan saham BREN dan DSSA hampir pasti akan dikeluarkan dari indeks MSCI setelah masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration. Selain kedua saham tersebut, sejumlah emiten lain juga berpotensi mengalami penghapusan dari indeks atau turun kelas ke small cap index menyusul perubahan metode perhitungan free float oleh MSCI, termasuk penggunaan data tambahan terkait kepemilikan saham satu persen.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar