Negosiasi Nuklir Baru AS-Iran Dinilai Lebih Berat dari Satu Dekade Lalu, Mantan Diplomat Sebut Perubahan Politik Jadi Penghalang Utama

- Selasa, 12 Mei 2026 | 06:00 WIB
Negosiasi Nuklir Baru AS-Iran Dinilai Lebih Berat dari Satu Dekade Lalu, Mantan Diplomat Sebut Perubahan Politik Jadi Penghalang Utama

Upaya Amerika Serikat untuk merajut kembali kesepakatan baru dengan Iran dinilai akan menghadapi medan negosiasi yang jauh lebih terjal dibandingkan satu dekade lalu. Alan Eyre, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS yang juga fasih berbahasa Farsi, mengungkapkan bahwa lanskap politik global dan domestik telah berubah drastis sejak Kesepakatan Nuklir 2015 ditandatangani.

Eyre, yang merupakan anggota kunci tim negosiasi era Presiden Barack Obama, menyebutkan bahwa kepemimpinan Iran saat ini berada dalam spektrum yang jauh lebih konservatif. “Jauh lebih sulit untuk mendapatkan kesepakatan sekarang dengan pemerintahan Iran yang saat ini,” ujarnya dalam wawancara dengan CNN pada Senin (11/5/2026). Menurutnya, pada 2015 Iran memiliki kepemimpinan yang relatif lebih moderat, berbeda dengan kondisi sekarang di mana Teheran dikuasai oleh figur-figur garis keras dan radikal.

Di sisi lain, ruang lingkup negosiasi kini tidak lagi terbatas pada program nuklir. Isu kedaulatan di Selat Hormuz turut menjadi agenda utama yang memperumit dinamika perundingan. Eyre juga menyoroti adanya kesenjangan signifikan antara pernyataan publik dan realitas di meja perundingan. Ia menanggapi tuduhan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran telah mengingkari janji. “Banyak dari apa yang kita dengar di publik tidak selaras dengan realitas yang mendasarinya, dari kedua belah pihak,” kata Eyre. Ia bahkan menilai tuduhan tersebut kemungkinan merupakan hasil dari salah komunikasi atau fabrikasi.

Eyre mengaku tidak percaya jika Iran sejak awal pembicaraan setuju untuk mengekspor seluruh uranium yang diperkaya tinggi langsung ke Amerika Serikat. Pernyataan ini menunjukkan keraguan mendalam terhadap klaim-klaim yang beredar di ruang publik.

Sementara itu, dari kubu lawan, Ketua Parlehan Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya sudah siap menghadapi skenario apa pun jika negosiasi tetap menemui jalan buntu. “Angkatan bersenjata kami siap memberikan tanggapan yang memberi pelajaran terhadap agresi apa pun,” tulis Ghalibaf di media sosial. Ia memperingatkan bahwa strategi salah perhitungan dari pihak Barat hanya akan berujung pada kegagalan. “Kami siap untuk setiap pilihan. Mereka akan terkejut,” tambahnya.

Ghalibaf juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak punya pilihan lain selain menerima hak-hak rakyat Iran yang tertuang dalam proposal 14 poin yang diajukan Teheran awal bulan ini. “Semakin lama mereka menunda-nunda, semakin besar biaya yang harus dibayar pembayar pajak Amerika,” ujarnya. Pernyataan keras ini muncul tak lama setelah Presiden Trump menyebut proposal terbaru Iran “tidak dapat diterima” dan menyatakan gencatan senjata yang ada saat ini sedang dalam kondisi kritis atau “sekarat”.

Di tengah ketegangan tersebut, Ghalibaf sebelumnya sempat mendapat tekanan dari kelompok garis keras di internal Iran yang menilai sikapnya terlalu lunak saat bernegosiasi dengan AS di Islamabad, Pakistan, bulan lalu. Situasi ini menambah kompleksitas jalan menuju kesepakatan baru yang diidamkan oleh Washington.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar