Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan berada dalam tekanan jual pada pekan depan, dengan sejumlah sentimen negatif yang membayangi pergerakannya.
Kombinasi aksi ambil untung, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta penantian rilis data ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong indeks turun di bawah level psikologis 7.000. Situasi ini diperparah oleh arus keluar modal asing yang masih deras.
Founder CTA Saham, Andri Zakaria Siregar, mengungkapkan bahwa sentimen pasar saat ini cenderung kurang kondusif. Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih atau net sell yang cukup besar, mencapai Rp49 triliun secara year-to-date. Selain itu, spekulasi terkait tinjauan indeks MSCI pada 12 Mei mendatang membuat pelaku pasar bersikap menunggu dan waspada.
Menurut Andri, arah pasar pekan depan akan sangat bergantung pada hasil review MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Keputusan tersebut akan menjadi penentu apakah investor global akan meningkatkan bobot investasi mereka atau justru melakukan pengurangan besar-besaran.
“Masyarakat masih tergantung melihat dari pembangunan review dari MSCI apakah akan mengupgrade atau mendowngrade untuk kita ke frontier atau kita mencetak di emerging market. Jadi istilahnya kalau bahasa simpelnya boom or doom, jadi istilahnya kalau baiknya berarti market kita akan rally,” kata Andri kepada IDX Channel, Minggu (10/5/2026).
Di sisi lain, kebijakan domestik mengenai skema baru royalti tambang turut memicu aksi jual pada saham-saham sektor komoditas. Tekanan semakin bertambah dengan munculnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap isu kesehatan terkait penemuan kasus virus hantavirus di dalam negeri.
Dari sisi teknikal, Andri menilai IHSG saat ini sedang berada dalam fase gelombang koreksi yang cukup panjang. Dalam jangka pendek, pasar memang sudah jenuh jual atau oversold. Namun, untuk jangka menengah, tren masih menunjukkan sinyal sell on strength.
Untuk perdagangan pekan depan yang hanya berlangsung tiga hari kerja, Andri memproyeksikan IHSG masih memiliki kecenderungan melemah menuju area support kuat di level terendah sebelumnya.
“Jadi artinya masih pencurungan menuju ke 6.965 sampai dengan 6.876 low kemarinnya menjadi support, sementara resistnya berada di 7.120 sampai dengan 7.238,” ungkapnya.
Andri menyarankan bagi pelaku pasar yang ingin melakukan spekulasi jangka pendek untuk tetap berhati-hati selama indeks bertahan di atas level bottom 6.870. Sementara itu, untuk investasi jangka menengah dan panjang, ia masih bersikap konservatif karena posisi harga saat ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan atau moving average (MA) 20 hingga 200 hari yang berada di level 7.900.
“Tapi kalau negatif market kita akan sell out karena tekniknya sendiri untuk nyaga pendeknya sih sudah oversold ya dari bottom ya di 6.876 sampai dengan 6.917 tapi kalau untuk medium term-nya kita masih tetap sell on strength,” kata Andri.
Artikel Terkait
Mulai Agustus 2026, TPST Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu, Warga Jakarta Didorong Pilah Sampah dari Rumah
Polri Ajak Masyarakat Perkuat Kesadaran Ekologis Hadapi Ancaman Karhutla Akibat Super El Nino 2026
Putin Akui Perang di Ukraina Mulai Mendekati Akhir
Pemerintah Tahan Kenaikan Gaji ASN Bertahap hingga 2027, Birokrasi Diuji di Tengah Tekanan Inflasi dan Krisis Energi