Kementan Siapkan 11.000 Pompa Air Antisipasi Kemarau Panjang 2026

- Rabu, 22 April 2026 | 12:40 WIB
Kementan Siapkan 11.000 Pompa Air Antisipasi Kemarau Panjang 2026

Jakarta, Rabu (22/4/2026) – Menghadapi ancaman kemarau panjang yang diprediksi melanda pada 2026, Kementerian Pertanian tak tinggal diam. Berbagai langkah strategis sudah disiapkan sejak dini. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sendiri menegaskan, salah satu fokus utama mereka adalah pompanisasi. Langkah ini diharapkan bisa menjaga produktivitas lahan pertanian saat air mulai sulit.

“Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah strategis, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis early warning system, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan,” ujar Mentan.

Proyeksi iklim memang tak terlalu menggembirakan. Kemarau tahun 2026 disebut-sebut akan lebih panjang dan lebih keras intensitasnya dibanding tahun-tahun biasa. Tapi, klaim pemerintah, kondisi ini sudah diantisipasi. Mereka menggenjot sistem mitigasi dan intervensi lapangan agar dampaknya bisa ditekan.

Kekhawatiran terbesar ada di sejumlah sentra produksi, terutama di Pulau Jawa. Di sana, ketersediaan air irigasi berpotensi merosot. Kalau ini terjadi, pola tanam bisa kacau, indeks pertanaman turun, dan yang paling parah: risiko gagal panen mengintai.

Nah, untuk merespons itu, Kementan mempercepat intervensi di daerah-daerah rawan. Caranya? Salah satunya dengan mengoptimalkan pompa air dan memanfaatkan sumber air permukaan yang ada. Menurut mereka, ini bukan aksi panik. Semua sudah dikoordinasikan ke daerah-daerah agar mitigasi bisa jalan dengan memetakan wilayah terdampak dan mencari sumber air terdekat.

Di sisi lain, Andi Nur Alam Syah, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, juga angkat bicara. Ia menekankan betapa krusialnya peran pompa air ini.

"Optimalisasi pompanisasi menjadi langkah krusial untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah musim kemarau. Dengan dukungan pompa air, petani tetap dapat mengakses sumber air alternatif sehingga kegiatan budidaya tidak terhenti," tegasnya.

Ia pun merinci upaya yang sudah dilakukan. “Pada periode 2023 hingga 2025, Kementerian Pertanian telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi kekeringan di tingkat lapangan. Untuk tahun 2026 ini, targetnya ada 11.000 unit lagi yang akan dialokasikan ke seluruh Indonesia,” jelas Andi.

Namun begitu, strategi menghadapi kemarau tak cuma soal air. Kementan juga memastikan ketersediaan sarana produksi utama, terutama pupuk subsidi, tetap aman. Ini faktor kunci untuk menjaga efisiensi biaya para petani di tengah tekanan cuaca ekstrem.

“Hingga saat ini ketersediaan pupuk subsidi masih sangat cukup. Per 20 April 2026, dari alokasi sebesar 9,55 juta ton, masih tersedia sekitar 7 juta ton yang dapat dimanfaatkan oleh petani di seluruh Indonesia. Ketersediaan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memberikan keringanan biaya produksi bagi petani,” terang Andi.

Jadi, begitulah kira-kira persiapan yang digelar. Semua langkah itu diharapkan bisa menjadi tameng bagi sektor pertanian nasional ketika kemarau panjang benar-benar datang nanti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar