Harga bahan pokok nasional mulai menunjukkan tanda-tanda stabil. Tren ini terlihat hingga pekan ketiga April 2026, di mana situasinya terpantau semakin terkendali.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kabar yang cukup menggembirakan. Jumlah provinsi yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) turun dari 22 di minggu kedua, menjadi hanya 15 provinsi di minggu ketiga April. Artinya, ada perbaikan yang signifikan dalam waktu singkat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi perkembangan ini pada Rabu (22/4).
"Kita bersyukur, alhamdulillah tercatat ada 15 provinsi yang mengalami kenaikan IPH. Jadi (ini) mengalami penurunan jumlah provinsi yang mengalami kenaikan IPH pada kondisi minggu ketiga April," ujarnya.
Perbaikan juga terjadi di level daerah. Menurut Ateng, jumlah kabupaten/kota dengan IPH naik berkurang dari 149 menjadi 137. Yang menarik, daerah dengan penurunan IPH justru lebih banyak, yakni mencapai 213 daerah. Angka ini jauh lebih tinggi, hampir dua kali lipat dibanding daerah yang harganya naik.
Namun begitu, tidak semua berita positif. Ada satu komoditas yang justru perlu diwaspadai: minyak goreng. Fluktuasi harganya terjadi di 207 kabupaten/kota, melonjak cukup tajam dari pekan sebelumnya yang hanya 177 daerah.
"Minyak goreng ini sebagai catatannya, ini peningkatannya terjadi pada 207 kabupaten kota. Sengaja kami memberikan tanda seru karena pada minggu kedua itu hanya 177. Sekarang menjadi 207. Jadi peningkatannya cukup banyak sekali," tegas Ateng.
Pemerintah pun didorong untuk segera turun tangan, melakukan intervensi agar gejolak harga minyak goreng ini bisa diredam.
Di sisi lain, ada secercah harapan dari minyak goreng kemasan merek Minyakita. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut harganya mulai turun. Kunci penstabilan ini, kata dia, terletak pada optimalisasi skema Domestic Market Obligation (DMO).
"Minyakita, harga sudah mulai turun. Memang sekarang ini serapan DMO itu dibagi juga untuk bantuan pangan. Tapi kita usulkan BUMN bisa peroleh sampai 60 persen DMO, sehingga akan mempermudah pemantauan pemerintah distribusi ke pasar-pasar," jelas Ketut.
Data Kementerian Perdagangan per 17 April mencatat, rata-rata harga Minyakita nasional ada di Rp15.982 per liter. Memang sedikit di atas HET Rp15.700, tapi 28 provinsi sudah berhasil menyesuaikan harganya dengan patokan itu.
Realitas di lapangan tak selalu mulus. Ketut mengungkap masih ada praktik 'marketing lepas' dalam rantai pasok Minyakita. Praktik ini memanjangkan alur distribusi dan berujung pada harga eceran yang membengkak di tingkat konsumen.
"Kalau nanti usulan kita bahwa Bulog maupun ID FOOD memperoleh 60 persen DMO, itu akan lebih mudah kita melakukan pemantauan. Jadi agar jejaringnya tidak kepanjangan. Biasanya yang menyebabkan harga terlalu tinggi, dari produsen kemudian D1, D2. Harusnya kan langsung ke pengecer," paparnya.
Hingga 17 April, realisasi DMO Minyakita yang disalurkan melalui BUMN sebagai distributor utama telah mencapai 228,2 ribu ton. Bulog menyerap 182,7 ribu ton, sementara ID FOOD sekitar 45,5 ribu ton. Secara nasional, 53 produsen telah memenuhi kewajiban DMO minimal 35%, tapi masih ada 10 produsen yang belum.
Perlu diingat, Minyakita bukan program subsidi. Ini adalah bentuk kontribusi produsen sawit dalam negeri untuk memenuhi pasar domestik, sebagai syarat mendapatkan izin ekspor.
Tantangannya kini adalah memperpendek rantai pasok. Bapanas mendorong penyaluran langsung ke pasar rakyat oleh BUMN, tanpa melalui distributor perantara. Harapannya, harga akhir bisa benar-benar sesuai HET.
Data Maret lalu menunjukkan, penyaluran Bulog ke pasar rakyat masih 4,3 ribu ton, lebih rendah dibanding ke kanal lain yang mencapai 8,9 ribu ton. Sementara ID FOOD berhasil menyalurkan 9,05 ribu ton Minyakita ke pasar-pasar dari total penyerapan 10,14 ribu ton.
Jelas, upaya stabilisasi masih berjalan. Pemerintah terus mendorong, tapi hasilnya di lapangan masih perlu waktu untuk benar-benar terasa oleh masyarakat.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Anjlok 0,41%, Pergerakan Sektor Beragam
Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Mundur Usai Ditunjuk Pimpin Pelindo Jasa Maritim
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Bervariasi: Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore
Barcelona Fokus Rebut Gelar La Liga Usai Gagal di Eropa