WASHINGTON DC – Pujian datang dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, untuk perekonomian Indonesia. Dalam Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia yang berlangsung di sini, Indonesia disebut sebagai 'bright spot' atau titik terang di tengah ketidakpastian global. Menurut Georgieva, capaian ini berkat kebijakan yang kredibel dan fundamental ekonomi yang kuat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang hadir dalam forum tersebut, sependapat. Namun begitu, ia menegaskan bahwa ketahanan yang kita lihat sekarang bukanlah hasil instan. Ini buah dari reformasi struktural yang dilakukan secara konsisten bertahun-tahun, bukan sekadar langkah darurat saat krisis menghantam.
“Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia,”
ujar Purbaya, Selasa (21/4/2026).
Di sisi lain, tantangan nyata ada di depan mata. Konflik di Timur Tengah memicu krisis energi yang dampaknya dirasakan hingga ke dalam negeri. Arus keluar modal asing pun terjadi, mencapai 1,8 miliar dolar AS, disusul depresiasi rupiah. Tapi anehnya, situasi makro tetap stabil. APBN, menurut Purbaya, berfungsi dengan baik sebagai shock absorber atau peredam guncangan, menjaga daya beli masyarakat agar tidak terjun bebas.
Komitmen pemerintah soal disiplin anggaran juga dipegang teguh. Defisit APBN dijaga agar tetap di bawah batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto. Ini sinyal penting bagi pasar.
Optimisme untuk tahun 2026 tetap mengemuka. Purbaya yakin target pertumbuhan 5,4 hingga 6 persen bisa dicapai. Pilar utamanya? Konsumsi rumah tangga yang solid, ditambah rekor surplus perdagangan yang bertahan selama hampir enam tahun tepatnya 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026. Itu pencapaian yang cukup luar biasa.
Tak hanya mengandalkan sektor konvensional, pemerintah juga menyiapkan pondasi untuk masa depan. Indonesia disebut sedang gencar membangun ekosistem kecerdasan artifisial (AI) nasional. Tujuannya agar peningkatan produktivitas bisa dimaksimalkan di dalam negeri.
“Kami tetap terbuka pada kolaborasi global,” kata Purbaya, menambahkan bahwa posisi yang diambil adalah sebagai pengguna sekaligus pengembang solusi berbasis AI.
Jadi, meski angin kencang terus berhembus dari luar, tampaknya Indonesia punya cukup bekal untuk tetap melaju. Pujian dari IMF tentu menyenangkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menjaga momentum ini agar tidak sekadar jadi cerita sesaat.
Artikel Terkait
Telkom Seleksi 27 Kandidat untuk Program Calon Pimpinan Masa Depan
TASPEN Percepat Transformasi Digital dan Kuatkan Ketahanan Bisnis di Usia ke-63
Roy Suryo Tegaskan Tak Akan Ajukan Restorative Justice dalam Kasus Ijazah Jokowi
Menteri Perdagangan Sebut Kenaikan Harga Minyak Goreng Dipicu Distribusi dan Harga Plastik