AS Sita Kapal Kargo Iran, Teheran Ancam Balas dan Batalkan Perundingan

- Senin, 20 April 2026 | 07:50 WIB
AS Sita Kapal Kargo Iran, Teheran Ancam Balas dan Batalkan Perundingan

Militer AS baru saja menyita sebuah kapal kargo milik Iran. Aksi ini terjadi saat kapal tersebut berusaha menerobos blokade maritim yang telah diberlakukan Amerika. Kejadian ini, dilaporkan Reuters pada Senin (20/4/2026), langsung memicu ancaman balasan dari Teheran.

Iran sendiri sudah memastikan akan membalas. Mereka bahkan menyinyalir bahwa gencatan senjata yang ada antara kedua negara itu mungkin tak akan bertahan lama. Situasinya memang makin panas.

“Kami memiliki kendali penuh atas kapal mereka, dan sedang melihat apa yang ada di dalamnya!”

Begitu kicauan Presiden Trump di media sosial, merujuk pada insiden penembakan terhadap kapal berbendera Iran yang sedang menuju Pelabuhan Bandar Abbas itu, seperti diungkap militer AS hari Minggu.

Di sisi lain, upaya perdamaian untuk kawasan itu tampaknya goyah. Iran secara tegas menyatakan tidak akan ikut serta dalam putaran kedua negosiasi yang diharapkan Washington. Padahal, pembicaraan itu dijadwalkan sebelum gencatan senjata berakhir hari Selasa. Media pemerintah Iran melaporkan penolakan itu, dengan alasan blokade masih berlangsung, retorika ancaman, serta tuntutan AS yang dinilai berlebihan.

Jadi, blokade pengiriman minyak yang sudah berlangsung berminggu-minggu dan mendongkrak harga global, kemungkinan besar akan tetap berlaku. AS masih mempertahankan blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara Iran sendiri, sempat mencabut lalu memberlakukan kembali blokadenya di Selat Hormuz yang ramai itu.

Menurut juru bicara militer Iran yang dikutip media pemerintah, kapal yang disita itu sedang dalam pelayaran dari China. Peringatan mereka keras.

“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata ini oleh militer AS,”

Begitu bunyinya. Ancaman terbuka, penolakan berunding, dan aksi saling blokade. Semua ini menggambarkan betapa rapuhnya ketegangan di kawasan itu, yang sepertinya siap meledak kapan saja.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar