Pupuk Indonesia Tegaskan Prioritas Pasokan Domestik Sebelum Ekspor Urea

- Minggu, 19 April 2026 | 16:00 WIB
Pupuk Indonesia Tegaskan Prioritas Pasokan Domestik Sebelum Ekspor Urea

PT Pupuk Indonesia siap mendukung rencana pemerintah untuk meningkatkan ekspor urea ke pasar global. Namun, jangan salah sangka dulu. Holding BUMN ini menegaskan, pasokan untuk petani di dalam negeri tetap jadi prioritas utama sebelum mereka mengirimkan pupuk ke luar.

“Arahan dari Kementerian Pertanian sudah jelas,” tegas Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dalam keterangannya akhir pekan lalu.

“Kami baru akan ekspor saat kebutuhan dalam negeri benar-benar sudah tercukupi,” ujarnya.

Menurut Rahmad, sebagai salah satu produsen urea terbesar di dunia, perusahaan ini memang sudah sangat siap. Mereka punya posisi strategis, bahkan bisa berperan sebagai stabilisator pasokan global di tengah carut-marutnya rantai pasok pupuk dunia saat ini. Dinamika geopolitik yang terjadi, alih-alih jadi ancaman, justru dilihatnya sebagai peluang. Peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran lebih besar dan sekaligus memperkuat perekonomian nasional.

“Banyak orang berpikir posisi kita rentan di tengah gejolak global,” kata Rahmad.

“Tapi di sektor industri pupuk, ternyata tidak. Kita justru bisa tampil sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Kita bisa bantu negara-negara lain yang membutuhkan.”

Minat dari negara lain itu nyata. Kementerian Pertanian menyebut setidaknya sudah ada empat negara yang berminat mengimpor urea dari Indonesia: Australia, India, Filipina, dan Brasil. Permintaan ini muncul sebagai solusi atas gangguan distribusi global, terutama yang terkait dengan dinamika di Selat Hormuz.

Namun begitu, Pupuk Indonesia tak akan gegabah. Mereka berjanji akan menjalankan ekspor dengan sangat hati-hati. Prinsipnya sederhana: pastikan dulu petani di rumah terpenuhi kebutuhannya.

Sebagai bukti komitmen, Rahmad menegaskan bahwa ekspor hanya akan dilakukan berdasarkan penugasan resmi pemerintah. Itu pun setelah dipastikan stok untuk pasar domestik benar-benar mencukupi, terutama saat musim tanam tiba masa yang paling krusial bagi petani.

“Jadi kami tidak mungkin melakukan ekspor saat musim tanam,” jelasnya.

“Hal itu sudah kami sampaikan ke perwakilan India dan negara lainnya. Mereka pun bisa memahami bahwa kami hanya akan ekspor di luar musim tanam.”

Kapasitas produksi mereka memang memungkinkan. Saat ini, Pupuk Indonesia mampu memproduksi hingga 9,4 juta ton urea per tahun. Angka itu jauh di atas kebutuhan dalam negeri yang berkisar 6-7 juta ton per tahun. Kunci dari kapasitas besar ini adalah ketersediaan bahan baku gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harganya.

Dengan produksi harian yang optimal, stok pun terjaga. Per 14 April lalu, stok pupuk baik subsidi maupun non-subsidi mencapai sekitar 1,2 juta ton.

“Ditambah produksi harian urea kita sekitar 25 ribu ton, dan NPK sekitar 15 ribu ton,” papar Rahmad.

“Jadi, sangat cukup.”

Di sisi lain, soal harga juga jadi perhatian. Di tengah fluktuasi harga global yang tak menentu, pemerintah memastikan harga pupuk subsidi akan tetap stabil. Bahkan, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sudah diturunkan 20 persen sejak Oktober tahun lalu. Ini adalah instrumen penting untuk melindungi petani dari gejolak pasar internasional.

“Pemerintah sudah menegaskan, HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama,” kata Rahmad.

“Artinya, ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun.”

Keunggulan Indonesia, tutup Rahmad, terletak pada kemandirian bahan baku. Disrupsi global justru membuat banyak negara kelimpungan mencari urea. Sementara Indonesia, mampu memproduksinya dari gas alam domestik. Tak bergantung impor. Dan itulah modal utama mereka untuk bisa membantu sekaligus berkontribusi lebih besar di kancah dunia.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar