Prabowo di Magelang: Beda Latar Belakang, Satu Cinta Negeri
Magelang - Di hadapan ratusan pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang gamblang. Perbedaan, menurutnya, jangan sampai memecah belah. Justru, itu harus jadi penguat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal ini ia sampaikan dalam Pengarahan Presiden pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah bagi Ketua DPRD se-Indonesia, Sabtu (18/4/2026), di Magelang, Jawa Tengah.
Acara yang mengusung tema 'Memperkuat Peran Pimpinan DPRD' itu sendiri berlangsung sejak 15 April di Lembah Tidar, Akademi Militer. Tak tanggung-tanggung, 503 Ketua DPRD hadir dalam forum yang dianggapnya sangat penting ini. Itulah sebabnya, Prabowo memutuskan untuk datang langsung.
"Saya anggap penting dan tepat jika saya hadir langsung, karena di sini hadir seluruh Ketua DPRD," ujarnya.
Dia membuka pembicaraannya dengan mengakui keragaman yang ada. Latar belakang setiap orang di ruangan itu pasti berbeda. Mulai dari asal daerah, suku, hingga jalur pendidikan dan profesi. Belum lagi afiliasi politik yang bisa saja berlainan. Namun begitu, di balik semua perbedaan itu, ada satu benang merah yang menyatukan.
"Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, daerah yang berbeda, suku yang berbeda, pendidikan yang berbeda, profesi yang berbeda, dan partai politik yang berbeda. Namun, sebagai anak bangsa, kita tetap satu," tegas Prabowo.
Nada bicaranya terbuka, bahkan blak-blakan. Prabowo sadar betul bahwa pilihan kata-katanya mungkin tak akan disukai semua orang. Bisa menyinggung, atau membuat sedih. Tapi baginya, itu risiko dari komunikasi yang jujur antar sesama anak bangsa. Yang penting, semua disampaikan secara apa adanya.
"Saya ingin bicara apa adanya. Mungkin apa yang saya sampaikan nanti ada yang kurang berkenan, mungkin ada yang tersinggung, ada yang sedih," tuturnya.
Di sisi lain, ia tak meragukan semangat para peserta. Keyakinannya penuh, bahwa setiap orang yang hadir adalah patriot sejati. Mereka yang mencintai tanah air, bangsa, dan rakyat Indonesia tanpa reserve. Asumsi inilah yang mendasari kedatangannya.
"Saya datang ke sini dengan anggapan bahwa kita semua di tempat ini adalah patriot. Kita cinta tanah air, kita cinta bangsa, dan kita cinta rakyat," imbuhnya.
Pesan intinya jelas: dalam perjalanan menuju cita-cita besar 2045, persatuan adalah kunci mutlak. Perbedaan latar belakang bukanlah penghalang, melainkan warna yang memperkaya khazanah kebangsaan. Titik.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Cek Kesiapan Cadangan Beras
Timnas Indonesia U-17 Hanya Butuh Kemenangan 1-0 Atas Vietnam untuk Lolos ke Semifinal
MUI Prihatin Kasus Pelecehan Chat 16 Mahasiswa FH UI, Soroti Bahaya Pornografi
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Sebut AS Langgar Janji