Paris diguyur hujan ringan, tapi suasana di Istana Élysée justru hangat. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut kedatangan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan upacara militer lengkap, Selasa (14/4/2026). Ini adalah puncak dari lawatan singkat namun padat Prabowo ke Eropa.
Sehari sebelumnya, sang presiden sudah lebih dulu bertemu Vladimir Putin di Kremlin, Moskow. Agendanya? Sama-sama membahas kerja sama strategis. Tapi pertemuan dengan Macron punya nuansa yang agak berbeda, lebih berfokus pada masa depan.
Lewat akun Instagram resminya, @presidenrepublikindonesia, tim komunikasi menyebutkan bahwa pertemuan ini adalah kelanjutan dari kunjungan ke Rusia.
"Usai merampungkan kunjungan kenegaraannya ke Rusia, Presiden melanjutkan agenda lawatan ke Prancis dan bertemu dengan Presiden Republik Prancis, Yang Mulia Emmanuel Macron," tulis keterangan tersebut.
Nah, apa saja yang dibicarakan? Rupanya cukup banyak. Dari hal-hal teknis seperti pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dan penguatan industri pertahanan, sampai ke topik yang sedang tren global: transisi energi. Mereka juga menyentuh soal infrastruktur, transportasi, bahkan sampai ke pendidikan dan ekonomi kreatif.
Prancis, bagi Indonesia, bukan sekadar mitra biasa. Negeri Menara Eiffel ini dianggap sebagai pintu gerbang penting di Eropa. Makanya, dalam keterangan tadi juga ditegaskan komitmen untuk membuka peluang kolaborasi baru yang konkret. Intinya, kerja sama yang diusung harus saling menguntungkan, bukan sekadar wacana.
Acara penyambutannya sendiri berlangsung khidmat. Pasukan kehormatan atau Guard of Honor berdiri tegak, memberikan penghormatan militer tertinggi. Ritual ini bukan cuma formalitas, tapi simbol persahabatan yang dijaga kedua negara.
Setelah saling berjabat tangan dan berbincang singkat di pelataran, kedua pemimpin itu lalu masuk ke dalam. Mereka menuju Les Salon des Portraits – ruang yang penuh dengan potret sejarah – untuk mengadakan pertemuan empat mata. Di sanalah pembahasan inti berlangsung, jauh dari keramaian dan sorotan kamera.
Pertemuan tête-à-tête itu jelas jadi momen strategis. Selain memperkuat kerja sama bilateral di sektor-sektor prioritas, Prabowo dan Macron juga punya kesempatan bertukar pikiran soal isu-isu global yang sedang panas. Dinamika dunia saat ini kan cepat sekali berubah.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan siang resmi. Momen seperti ini seringkali justru lebih produktif. Diplomasi tingkat tinggi tak melulu soal meja perundingan; obrolan santai sambil menikmati hidangan Prancis bisa mempererat hubungan personal. Dan hubungan personal yang baik, pada akhirnya, memperkuat fondasi kemitraan kedua negara untuk tahun-tahun mendatang.
Artikel Terkait
Kemenkeu Bantah Hoaks Akun Palsu Mengatasnamakan Menteri Keuangan yang Tawarkan Dana Bantuan
Prabowo-Macron Resmikan Dewan Bisnis Indonesia-Prancis, Hasilkan Kesepakatan Rp61,25 Triliun
Rano Karno Dapat Izin Pakai Gedung Jasindo di Kota Tua untuk Percepat Revitalisasi
Menkeu Terbitkan Aturan Baru, Tarif Izin Akuntan Publik Asing Capai Rp10 Juta