Pertemuan di Pentagon, Senin lalu, ternyata menghasilkan lebih dari sekadar jabat tangan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dan koleganya dari Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, secara resmi mengukuhkan sebuah kemitraan pertahanan baru. Mereka menyebutnya Major Defense Cooperation Partnership. Ini bukan sekadar nota kesepahaman biasa, melainkan kerangka kerja yang dirancang untuk jangka panjang.
Intinya, kerja sama bilateral di bidang pertahanan bakal ditingkatkan. Tujuannya jelas: menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik yang dinamis ini.
Hegseth terlihat antusias menyambut kunjungan Sjafrie. Baginya, ini adalah bukti nyata betapa hubungan keamanan kedua negara terus berkembang, bahkan sudah sangat aktif.
“Kunjungan ini menunjukkan pentingnya hubungan keamanan kita yang terus tumbuh dengan Indonesia. Hubungan ini aktif dan terus berkembang,” katanya.
Dia pun menyebut angka yang cukup mencengangkan. Rupanya, AS dan Indonesia sudah melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahunnya. Sebuah intensitas yang jarang terlihat.
“Kerja sama ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat daya tangkal kawasan, serta menegaskan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian melalui kekuatan,” tambah Hegseth.
Di sisi lain, Sjafrie Sjamsoeddin menyambut hangat penguatan ini. Dia menekankan komitmen Indonesia untuk membangun kerja sama yang langgeng dan, tentu saja, menguntungkan kedua belah pihak.
“Kami hadir dengan semangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan ini agar dapat bertahan hingga generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Sjafrie.
Menurutnya, semua ini dibangun di atas fondasi saling menghormati. Manfaat untuk kepentingan nasional masing-masing negara menjadi kunci.
Lalu, seperti apa wujud kemitraan ini? Rencananya ada tiga pilar utama. Pertama, penguatan organisasi dan kapasitas militer. Kedua, soal pelatihan dan pendidikan militer yang profesional. Ketiga, kerja sama latihan dan operasi secara langsung.
Nantinya, kedua negara akan menjajaki pengembangan teknologi pertahanan mutakhir. Mulai dari kemampuan asimetris, sistem maritim dan bawah laut, hingga teknologi otonom yang sedang tren. Tak ketinggalan, dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) akan ditingkatkan agar kesiapan operasional lebih maksimal. Pelatihan pasukan khusus bersama juga akan dipererat.
Hegseth juga menyisipkan apresiasi yang lebih personal. Dia berterima kasih atas peran Indonesia dalam membantu AS menemukan dan memulangkan jenazah prajuritnya yang gugur, termasuk dari masa Perang Dunia II.
“Saya menghargai dukungan Indonesia dalam membantu menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami yang berjuang bersama Indonesia,” ujarnya.
Kerja sama ini, kata dia, akan mendukung kelanjutan upaya pemulihan jenazah oleh Defense POW/MIA Accounting Agency di wilayah Indonesia.
“Ini adalah awal dari babak baru dan misi bersama bagi kedua negara kita,” pungkas Hegseth.
Kemitraan ini seolah mengukir babak baru dalam hubungan yang sebenarnya sudah lama terjalin. AS dan Indonesia telah menjadi mitra diplomatik selama lebih dari 75 tahun, tepatnya sejak 1949 tak lama setelah Indonesia merdeka. Kini, hubungan itu memasuki dimensi pertahanan yang lebih dalam dan terstruktur.
Artikel Terkait
Kemenag Pastikan Pendidikan 350 Santri Padepokan Padang Ati Tetap Berjalan Usai Pimpinannya Jadi Tersangka Pencabulan
Kemendagri Desak Kementerian Segera Lengkapi Administrasi Pencairan Anggaran Pemulihan Bencana Sumatera
Guru Ditemukan Tewas di Kamar Kos Semarang, Tak Ada Tanda Kekerasan
Petani Sawit Apresiasi Pabrik yang Tetap Beli TBS Sesuai HPP di Tengah Anjloknya Harga Akibat Kebijakan Ekspor Satu Pintu