Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah: Pernyataan JK Soal Syahid Dicabut dari Konteks, Bukan Ajaran Agama

- Minggu, 12 April 2026 | 17:30 WIB
Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah: Pernyataan JK Soal Syahid Dicabut dari Konteks, Bukan Ajaran Agama

Makna sejatinya adalah kemuliaan bagi mereka yang wafat dalam kebenaran, dengan niat lurus mempertahankan jiwa, agama, dan kehormatan. Bukan karena kebencian atas identitas orang lain.

Justru Alquran sangat keras menolak pembunuhan.

“Barangsiapa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Dan orientasi damainya pun jelas.

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (QS. Al-Anfal: 61)

Ayat ini menunjukkan dengan terang bahwa Islam adalah agama rahmah, agama yang memuliakan kehidupan. Jadi, ketika Pak JK menyebut persepsi sebagian pihak yang bertikai, itu adalah gambaran sosiologis, bukan definisi teologis.

Beliau sedang membaca sebuah realitas sejarah yang pahit, bukan menetapkan ajaran.

Di zaman sekarang, bahayanya memang ganda. Bukan cuma hoaks yang mengancam, tapi juga pemenggalan konteks. Satu kalimat yang dicabut dari rangkaian pidatonya bisa mengubah citra seorang tokoh perdamaian menjadi provokator. Padahal faktanya berkata lain.

Jusuf Kalla adalah simbol rekonsiliasi. Mustahil beliau bermaksud menstigma agama lain.

Pesan yang seharusnya kita tangkap justru sebaliknya: bahwa kekerasan dan pembunuhan atas nama identitas agama itu selalu salah, dalam pandangan Islam maupun Kristen. Yang kerap bermasalah adalah oknum yang menyalahgunakan agama untuk membenarkan kebencian mereka. Dan itulah yang dulu berhasil dihentikan oleh Pak JK lewat meja perundingan.

Pada akhirnya, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih bijak. Jaga persatuan ini. Rawat kerukunan yang ada. Perkuat tali persaudaraan antarumat beragama, karena kita sama-sama mencintai kedamaian di tanah Indonesia.

Jangan gampang terpancing narasi yang menyulut perpecahan, terutama yang bermain di isu-isu sensitif seperti SARA. Indonesia ini dibangun di atas keberagaman, bukan permusuhan.

Persatuan adalah kekuatan terbesar kita. Dan perdamaian adalah warisan berharga yang harus kita jaga bersama, untuk keutuhan NKRI.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar