“Data ini akan menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi AS, sekaligus penentu ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan,” kata Imam.
Dia menambahkan, kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi dari energi dapat memperkuat narasi higher for longer. “Yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi arus dana ke pasar emerging,” jelasnya.
Melihat ke belakang, pekan lalu IHSG hanya terkoreksi tipis, -0,14 persen. Tapi jangan salah, tekanan jual dari investor asing ternyata cukup terasa. Catatan outflow-nya mencapai Rp3,8 triliun dalam tiga hari perdagangan yang dipotong libur Idulfitri.
Lalu, apa yang perlu diwaspadai awal April nanti? Pasar dalam negeri akan menantikan rilis data inflasi Maret dan S&P Global Manufacturing PMI Indonesia. Kekhawatiran tentang imported inflation mengemuka, dipicu kenaikan harga energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah yang belum stabil.
Meski begitu, dalam suasana wait and see ini, Imam melihat peluang tetap ada. Sektor energi seperti batu bara dan migas serta CPO, dinilai mendapat angin dari kenaikan harga komoditas dunia. Harga CPO Malaysia yang bertahan di MYR 4.600 per ton dan percepatan program B50 di dalam negeri jadi pendukung.
Selain itu, pelemahan rupiah ternyata membawa berkah tersendiri. Emiten berbasis ekspor diperkirakan akan diuntungkan secara kompetitif di pasar internasional.
Jadi, meski penuh kehati-hatian, bukan berarti tidak ada celah untuk bergerak. Semuanya kembali pada data dan bagaimana sentimen global berkembang dalam beberapa hari ke depan.
Artikel Terkait
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon Selatan, Indonesia Kecam Keras
Indonesia dan Jepang Resmikan Kerja Sama Formal Bidang Pariwisata
Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun, Angka Kematian Anjlom 31 Persen
Harga Cabai dan Daging Turun Signifikan di Awal Pekan