Dampak hilirisasi, lanjut Amran, sangat luas. Bukan cuma menguatkan ekonomi, tapi juga meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja baru, dan tentu saja, mengokohkan posisi Indonesia di kancah internasional.
Namun begitu, jalan menuju swasembada dan hilirisasi ini tidak selalu mulus. Amran mengakui ada pihak-pihak yang tidak senang melihat Indonesia mandiri dan berhenti mengimpor. Tapi ia berjanji pemerintah tak akan mundur.
Upaya keras itu ternyata sudah membuahkan hasil yang nyata, bahkan dirasakan dunia. Amran menyebutkan, Indonesia berhasil mengurangi impor beras secara signifikan, hingga mencapai 7 juta ton. Efeknya, harga beras dunia pun turun drastis, sekitar 44 persen.
Pencapaian di bidang pangan ini pun diakui dunia. Badan Pangan Dunia (FAO) memberikan penghargaan tertinggi bidang ketahanan pangan kepada Indonesia dua kali berturut-turut, pada 2024 dan 2025. Sejak itu, minat negara lain untuk belajar dan bekerja sama pun melonjak.
Di akhir paparannya, Amran menekankan betapa strategisnya urusan pangan ini. Krisis ekonomi atau kesehatan mungkin bisa dihadapi. Tapi krisis pangan adalah cerita lain.
Pesan itu jelas. Hilirisasi bukan pilihan, tapi keharusan. Untuk kedaulatan, kesejahteraan, dan masa depan Indonesia yang lebih kuat.
Artikel Terkait
Jamaika Kalahkan Kaledonia Baru 1-0, Lolos ke Final Path A Kualifikasi Piala Dunia
Menteri Keuangan Lantik Robert Leonard Marbun sebagai Sekjen Baru
Harga Bahan Pokok Naik Jelang Akhir Pekan, Beras dan Bawang Merah Melonjak
PM Anwar Umumkan Kapal Malaysia Diizinkan Melintasi Selat Hormuz