Sebelum diizinkan melintas, setiap kapal wajib melaporkan detail lengkap soal kepemilikannya dan tujuan kargo. Yang menarik, komunikasi ini tidak dilakukan secara langsung ke pemerintah Iran, melainkan melalui serangkaian individu yang berafiliasi dengan Tehran dan beroperasi di luar negeri.
Pembicaraan soal skema ini rupanya sudah berjalan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada 15 Maret lalu menyatakan negaranya terbuka untuk berdiskusi dengan negara mana pun yang ingin membahas jalur aman bagi kapalnya.
Nyatanya, sejumlah negara sudah menyambut sinyal itu. Menurut sejumlah saksi, beberapa negara seperti India, Pakistan, Irak, Malaysia, dan China dikabarkan telah memulai komunikasi dengan pihak Iran. Mereka tampaknya sedang menimbang-nimbang opsi ini.
Perkembangan terbaru ini jelas menambah dinamika baru di Selat Hormuz. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai solusi praktis. Di sisi lain, ini juga menunjukkan kompleksnya situasi dan upaya Iran untuk tetap mengendalikan arus lalu lintas di halaman depannya sendiri.
Artikel Terkait
Rekayasa Lalu Lintas Satu Arah Diberlakukan di Tol Jagorawi Menuju Puncak
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Targetkan Fasilitas Energi dan IT Amerika-Israel
Bayern Munich Hajar Union Berlin 4-0, Dortmund Menang Dramatis
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 pada 24 Maret