Angkanya konkret: biaya pengiriman mereka naik sekitar 18 persen. Lonjakan harga minyak dunia jadi biang keroknya. Akibatnya, mereka terpaksa mengambil langkah-langkah pahit. Di Sudan, jatah makanan untuk komunitas yang terancam kelaparan terpaksa dipangkas. Sementara di Afghanistan, yang bisa mereka dukung cuma satu dari empat anak yang menderita kekurangan gizi akut. Sungguh situasi yang memilukan.
Masalahnya nggak cuma di minyak. Skau juga angkat bicara soal pupuk. Selat Hormuz yang macet total bikin pasar pupuk global ikut-ikutan kacau. Padahal, seperempat suplai pupuk dunia lewat jalur sempit itu. Gangguan di sana efeknya berantai ke mana-mana.
Pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah keluarga-keluarga biasa. Skau menekankan, melambungnya harga pangan dan bahan bakar bisa bikin mereka tak lagi sanggup beli kebutuhan pokok. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor, menurutnya, akan jadi yang paling terpukul.
Jadi, peringatan dari WFP ini jelas bukan sekadar prediksi. Ini adalah gambaran nyata tentang krisis yang sedang mengembang. Dan kita semua, entah langsung atau tidak, mungkin akan merasakan gelombangnya.
Artikel Terkait
Rekayasa Lalu Lintas Satu Arah Diberlakukan di Tol Jagorawi Menuju Puncak
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Targetkan Fasilitas Energi dan IT Amerika-Israel
Bayern Munich Hajar Union Berlin 4-0, Dortmund Menang Dramatis
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 pada 24 Maret