Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Perparah Krisis Pangan dan Bantuan di Gaza

- Selasa, 10 Maret 2026 | 21:20 WIB
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Perparah Krisis Pangan dan Bantuan di Gaza

Dampak krisis ini paling nyata terpampang di harga sayur dan buah. Barang-barang segar itu kini seperti barang mewah. Ambil contoh tomat. Satu kilogram tomat yang sebulan lalu harganya sekitar 1,5 dolar AS, kini melonjak nyaris ke 4 dolar. Mentimun dan kentang pun tak kalah mahalnya. Bagi keluarga yang penghasilannya sudah luluh lantak karena perang, membeli seikat sayur saja jadi perhitungan berat.

“Orang-orang sudah tidak mampu lagi membeli sayur dan buah karena harga yang melonjak akibat perang antara Israel dan Iran,” keluh seorang warga, suaranya terdengar letih.

Cerita dari pedagang dan pembeli nyaris serupa: barang yang masuk sedikit, stok cepat habis, dan harga semua kebutuhan meroket. Di beberapa sudut Gaza City, barang pokok seperti minyak goreng, tepung, sampai makanan kaleng sudah sulit ditemui.

Menurut pantauan PBB, penutupan perlintasan di tengah eskalasi konflik inilah pemicu kenaikan harga di seluruh Gaza. Jumlah truk yang masuk dinilai terlalu sedikit untuk menjaga stok tetap stabil. Akibatnya, barang yang ada di pasar ludes terjual hanya dalam hitungan hari.

Ironisnya, situasi sempat menunjukkan titik terang beberapa minggu sebelumnya. Pada Februari lalu, ketersediaan makanan sempat membaik dan harga beberapa komoditas turun. Namun, semua kemajuan kecil itu pupus sudah. Penutupan terbaru membalikkan segalanya ke titik nol, bahkan lebih buruk.

Krisis ini tak cuma soal pangan. Layanan dasar warga juga ikut kolaps. Cadangan bahan bakar yang terbatas terpaksa dijatah ketat. Beberapa lembaga kemanusiaan terpaksa menghentikan pengangkutan sampah dan memangkas produksi air bersih. Rumah sakit pun terpaksa mengambil langkah-langkah darurat yang menyedihkan.

Jadi, di tengah kobaran perang Timur Tengah yang tak kunjung padam, warga Gaza kembali dicekam ketidakpastian. Pertanyaan yang menghantui mereka sederhana, namun menyayat: besok, masih adakah makanan untuk disajikan di meja makan keluarga?

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar