Iran: 30 Persen Korban Tewas dalam Konflik Terbaru adalah Anak-anak

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 03:15 WIB
Iran: 30 Persen Korban Tewas dalam Konflik Terbaru adalah Anak-anak

TEHERAN - Angka-angka yang muncul dari konflik terbaru ini sungguh memilukan. Data dari Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran mengungkapkan, dalam tujuh hari pertama perang, korban jiwa telah mencapai 1.230 orang. Yang lebih menghancurkan lagi adalah komposisi dari angka statistik yang dingin itu.

Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, dengan nada berat menyampaikan fakta pahit tersebut.

"Sayangnya, hingga saat ini, hampir 30 persen dari korban tewas adalah anak-anak," ujarnya.

Bayangkan, dari setiap sepuluh nyawa yang melayang, tiga di antaranya adalah anak-anak. Mereka yang seharusnya masih bermain, belajar, dan tertawa.

Kerusakan fisik di lapangan juga tak kalah parah. Menurut keterangan yang sama, serangan gabungan itu telah menghantam ribuan bangunan. Sekitar 3.090 rumah penduduk rata dengan tanah, ditambah 528 toko dan 13 fasilitas medis ikut menjadi sasaran. Di antara yang terakhir, sembilan adalah fasilitas milik Bulan Sabit Merah Iran organisasi yang justru seharusnya dilindungi dalam situasi perang.

Sementara itu, tudingan spesifik dilayangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Mereka menyebut sebuah tragedi memilukan di sebuah sekolah berasal dari pangkalan militer AS.

Serangan rudal jelajah jarak jauh yang terjadi pada 28 Februari lalu, menargetkan sekolah Shajare Tayebe di selatan Iran. Akibatnya, 165 siswi dilaporkan tewas. Sebuah gedung pendidikan berubah menjadi kuburan massal dalam sekejap.

"Sasarannya adalah Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA milik teroris Amerika Serikat. Serangan kriminal terhadap sekolah itu dilakukan dari pangkalan ini," bunyi pernyataan resmi IRGC, dengan nada keras yang penuh kecaman.

Di sisi lain, dari Washington, tanggapan datang dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Pihaknya menyatakan sedang menyelidiki laporan serangan terhadap sekolah di Iran tersebut. Pernyataan itu singkat, belum banyak mengungkap detail lebih lanjut.

Dua narasi, dua versi, namun satu realita: korban anak-anak terus berjatuhan. Situasinya semakin rumit dan suram, dengan setiap pihak saling menyalahkan sementara dunia menyaksikan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar