Tapi, di medan darat, ceritanya agak berbeda. Meski secara jumlah masih kalah, ini mungkin jadi sektor di mana Iran bisa sedikit bernapas atau setidaknya bertahan lebih lama.
Untuk tank, AS unggul dengan 4.666 unit melawan 2.675 unit milik Iran. Kendaraan lapis baja? AS punya lebih dari 409 ribu, Iran cuma sekitar 76 ribu. Di artileri gerak sendiri, AS juga unggul jauh: 1.521 berbanding 424. Namun, untuk artileri tarik dan proyektor roket, selisihnya tidak terlalu besar. Iran punya 1.803 unit artileri tarik (AS: 1.878) dan 1.550 proyektor roket (AS: 1.731).
Lalu ada rudal. AS punya gudang rudas yang sangat besar, antara 25.000 hingga 30.000 unit dengan berbagai jangkauan. Kekuatan Iran justru terpusat pada sekitar 3.000 rudal balistiknya. Dan yang penting, seluruh stok rudal Iran itu disimpan di dalam negeri, siap digunakan kapan saja.
Kejutan lain datang dari teknologi drone. AS memang punya drone militer yang sangat canggih. Tapi Iran punya senjata yang efektif dan murah: drone bunuh diri atau kamikaze. Mereka mengandalkan Shahed-136 dan Shahed-139 buatan sendiri untuk serangan jarak jauh satu arah.
Kemampuan drone Iran ini bukan omong kosong. Shahed-136 sudah diuji di medan perang Ukraina oleh Rusia. Banyak pengamat militer yang menilai, drone ini adalah salah satu terobosan teknologi paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Murah, mematikan, dan sulit dihadang.
Jadi, meski di atas kertas AS jauh lebih kuat, perang bukan cuma soal angka. Iran punya senjata-senjata spesifik dan pengetahuan medan yang bisa membuat konflik ini berlarut-larut. Serangan Sabtu lalu mungkin baru babak pembuka dari sebuah pertarungan panjang.
Artikel Terkait
Delapan Negara Timur Tengah Tutup Wilayah Udara Imbas Eskalasi AS-Israel-Iran
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Ganggu Lalu Lintas Minyak di Selat Hormuz
Serangan AS-Israel Hancurkan Sekolah Dasar di Iran, 40 Murid Perempuan Tewas
KPK Ungkap Upaya Sistematis Penghilangan Barang Bukti dalam Kasus Suap Bea Cukai