Pemerintah menyebutnya sebuah terobosan. Tapi, menurut analisis Centre for Strategic and International Studies (CSIS), dampak nyata dari kesepakatan tarif timbal balik dengan Amerika Serikat itu tak sebesar yang dibayangkan. Riandy Laksono, peneliti ekonomi di CSIS, membeberkan angka-angka yang menurutnya perlu dicermati lebih dalam.
Intinya, pengaruhnya terhadap total perdagangan kita sangat terbatas. Bagaimana tidak? Fasilitas tarif nol persen dari AS hanya mencakup sekitar 24% dari total ekspor Indonesia ke sana. Nah, di sini poin krusialnya: ekspor ke Negeri Paman Sam itu sendiri porsinya cuma sekitar 10% dari total ekspor nasional kita. Kalau dihitung-hitung, jadinya cuma sekitar 2% dari total perdagangan kita yang benar-benar mendapat manfaat akses pasar baru ini.
"Jadi, dari seluruh ekspor kita ke Amerika itu cuma 24 persen yang ter-cover yang dapat tambahan 0 persen. Bear in mind, ekspor kita ke Amerika itu cuma 10 persen. Jadi, total akses pasar yang kita amankan dari total trade kita cuma 2 persen,"
Ujar Riandy dalam sebuah diskusi di Jakarta akhir pekan lalu. Klaimnya ini tentu menohok optimisme resmi.
Memang, dalam perjanjian yang disebut Agreement on Reciprocal Tariff (ART) itu, ada 1.819 produk Indonesia yang dibebaskan dari bea masuk AS. Daftarnya lumayan beragam, mulai dari komoditas andalan seperti minyak sawit dan karet, sampai barang bernilai tambah tinggi semacam suku cadang pesawat dan semikonduktor. Untuk sektor tekstil, fasilitas diberikan lewat skema kuota tertentu atau TRQ.
Artikel Terkait
Kemlu Ungkap 4.882 WNI di Kamboja Ingin Pulang, Mayoritas Bekerja di Sektor Online Scam
Kemenkes Waspadai 8.224 Kasus Suspek Campak hingga Pekan Ketujuh 2026
Kemenhaj: 162 Ribu Dokumen Haji Diproses, Target Selesai Awal Maret
DKI Jakarta Tambah 63 Sekolah Swasta Gratis, Mulai Juli 2026