Bapanas Pantau Kenaikan Harga Telur, Ayam, dan Cabai Rawit

- Jumat, 27 Februari 2026 | 08:00 WIB
Bapanas Pantau Kenaikan Harga Telur, Ayam, dan Cabai Rawit

Harga pangan strategis nasional masih terpantau stabil. Itulah gambaran umum yang bisa diambil dari pantauan Badan Pangan Nasional atau Bapanas per Selasa (24/2/2026) lalu. Mayoritas komoditas utama masih bergerak dalam koridor yang ditetapkan pemerintah, baik itu Harga Acuan Penjualan (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET).

Namun begitu, ada catatan penting soal data ini. Informasi dari enumerator Bapanas di seluruh Indonesia biasanya baru terkonsolidasi penuh di sistem sekitar pukul 15.00 WIB setiap hari. Jadi, data rerata harga di pagi hari sebaiknya jangan dulu jadi patokan. Proses pengumpulannya masih berjalan.

Nah, kalau kita lihat lebih detail, kondisi tiap komoditas ternyata bervariasi. Untuk beras program SPHP, harganya masih aman. Di Zona 1 rata-ratanya Rp12.167 per kilogram, sementara di Zona 2 Rp12.681, dan Zona 3 Rp13.238. Angka-angka itu masih di bawah HET yang berkisar antara Rp12.500 sampai Rp13.500 per kg. Harga beras medium dan premium di tingkat konsumen juga relatif tenang, tidak banyak gejolak.

Lain cerita dengan protein hewani. Harga telur ayam ras ada di level Rp31.320 per kg, naik tipis sekitar 4% dari HAP Rp30.000. Daging ayam ras juga mengalami kenaikan serupa, tercatat Rp41.050 per kg atau naik 2,63% dari acuan Rp40.000. Untungnya, ada kabar baik dari daging sapi murni. Rerata harganya justru turun jadi Rp138.651 per kg, lebih rendah dari HAP-nya yang Rp140.000.

Di sektor hortikultura, sorotan utama ada pada cabai rawit merah. Harganya melonjak cukup tinggi, berada di level Rp76.081 per kg secara nasional. Jelas ini jauh melampaui rentang HAP nasional yang hanya Rp40.000 sampai Rp57.000 per kg.

Tapi situasi ini mulai menunjukkan perbaikan. Menurut Bapanas, aksi 'guyur' cabai dari petani binaan Kementan ke Pasar Induk Kramat Jati mulai berdampak. Mereka menyokong lewat mekanisme Fasilitasi Distribusi Pangan. Alhasil, harga yang sempat menyentuh Rp140.000-Rp150.000 per kg akhirnya turun drastis ke level Rp75.000 per kg pada tanggal 24 Februari lalu.

Untuk komoditas hortikultura lain seperti cabai merah keriting, cabai merah besar, bawang merah, dan bawang putih, harganya masih dalam batas wajar sesuai HAP. Hanya saja, harga bawang putih di Indonesia timur dan daerah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, Pedalaman) masih jadi perhatian serius pemerintah dan perlu penanganan lebih.

Komoditas lain yang perlu diawasi adalah minyak goreng. Rerata harga Minyakita di beberapa daerah masih bertengger di atas HET Rp15.700 per liter. Secara umum, minyak goreng kemasan rata-rata Rp21.216 per liter, sementara yang curah Rp17.774 per liter.

Menyikapi hal ini, Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy memberikan penjelasan.

"Untuk Minyakita terus kami pantau dan kami kejar supaya ke hulunya, mulai tingkat produsen, distributor sampai kepada tingkat pengecer. Bulog sebagai BUMN yang ditugaskan pemerintah untuk mengelola dan mendistribusikan Minyakita dalam program DMO agar terus melakukan pemenuhan kebutuhan, baik di pasar tradisional maupun modern. Harapannya, harganya stabil di level Rp15.700 per liter sesuai yang tertera di kemasan," ujar Sarwo Edhy.

Di sisi lain, ada juga komoditas pakan seperti jagung yang harganya Rp6.896 per kg, masih di atas HAP Rp5.800. Berbanding terbalik, kedelai biji kering impor justru turun menjadi Rp10.937 per kg, lebih murah dari HAP-nya yang Rp12.000.

Menurut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, kenaikan harga yang terjadi saat ini sifatnya terbatas. Hanya menyerang beberapa komoditas tertentu dan tidak menggambarkan lonjakan harga secara umum.

"Pemerintah terus melakukan pengawasan melalui Satgas Saber pelanggaran pangan. Bahkan sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Amran Sulaiman, tim kami terus ada di lapangan untuk memantau dan mengawasi pasokan dan harga pangan. Tentunya berkoordinasi dengan Kepolisian/satgas Pangan Polri, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas di tingkat produsen maupun konsumen," tegas Ketut.

Jadi, secara keseluruhan, situasi masih terkendali. Pemerintah mengaku terus bergerak, mengawasi dari hulu ke hilir, agar stabilitas harga pangan ini bisa benar-benar dirasakan masyarakat sampai ke tingkat terbawah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar