Perbedaan Nasib dan Kesempatan
Perbandingan kondisi sosial-ekonomi menjadi sorotan tajam dalam pandangannya. Sarmuji menggambarkan jurang kesempatan antara anak dari keluarga mampu yang bisa fokus belajar, dengan anak dari keluarga kurang mampu yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sembari mengejar pendidikan.
“Orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus. Orang kaya yang bisa mengursuskan anaknya bahasa Inggris di tempat yang bagus. Kalau orang miskin tidak bisa. Mau gimana orang sekolahnya sambil jualan pentol, tidak bisa. Sulit sekali kalau sekolahnya, kuliahnya, sambil jualan pentol, bahkan nggak sempat dia belajar secara intensif,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa bagi kelompok mampu, LPDP hanyalah salah satu dari banyak pilihan. Sementara bagi yang kurang beruntung, beasiswa ini bisa menjadi satu-satunya tangga untuk mengubah masa depan.
Panggilan untuk Afirmasi Tanpa Turunkan Standar
Di akhir pernyataannya, Sarmuji menekankan bahwa solusinya bukan dengan menurunkan standar akademik. Justru, yang diperlukan adalah keberanian negara untuk hadir dengan program persiapan dan afirmasi yang membuka akses bagi kelompok yang secara struktural tertinggal.
“Ini bukan soal menurunkan standar. Standar akademik harus tetap tinggi. Tapi negara harus memperhatikan kelompok-kelompok yang tidak beruntung, yang tidak bisa mencapai kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan itu karena keterbatasan struktural,” pungkas dia.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Alokasikan Rp1,77 Triliun APBN untuk Tanggung Kenaikan Biaya Haji Akibat Lonjakan Avtur
Presiden Prabowo Tegaskan Kunjungan Luar Negeri untuk Jamin Pasokan Minyak