Keadilan Dijual, Rakyat Diperas: Sutoyo Abadi Sebut Negara Dikuasai Oligarki dan Silent Dragon
Suasana di Jakarta mungkin tampak biasa saja. Tapi di balik itu, menurut Sutoyo Abadi, ada sebuah kenyataan pahit yang sedang berlangsung. Koordinator Kajian Politik Merah Putih ini dengan tegas menyatakan, pintu gerbang kemerdekaan kita seolah-olah dikunci kembali. Negara yang dulu kita proklamasikan dengan susah payah, kini terasa dicabut nyawanya dan digiring masuk ke dalam sistem kapitalis yang kejam. Apa jadinya? Keadilan yang diimpikan rakyat berubah jadi tipuan belaka. Sementara slogan-slogan kesejahteraan hanya jadi hiasan bibir, yang ada di lapangan justru penderitaan yang tak kunjung reda. Kedaulatan, kata dia, malah dilelang seenaknya.
Dia tak main-main dalam menyampaikan kritiknya. Bagi Sutoyo, kekuasaan saat ini sudah kehilangan arah.
"Kekuasaan bukan pelindung rakyat tetapi pelindung oligarki. Penindas rakyat dimanipulasi dengan pidato kosong tentang pengabdian. Pejabat bukan pelayan tetapi algojo penghisap rakyat berdalih sebagai abdi negara."
Itu belum semuanya. Dia melanjutkan dengan gamblang tentang kondisi hukum yang menurutnya sudah bobrok.
"Hukum bukan tempat pencari keadilan tetapi penjual pasal di ruang sidang. Semua ditransaksikan dengan uang. Keadilan diperdagangkan dengan negosiasi untuk cari penghasilan,"
Ucapannya itu disampaikan pada Ahad, 4 Januari 2026. Dan dia tak berhenti di situ.
Menurut Sutoyo, praktik buruk itu sudah bukan lagi sekadar pelanggaran. Ia telah menjadi sistem yang mapan dan berjalan rutin.
"Pungli dan pemerasan bukan kejahatan dan penyimpangan, ia adalah prosedur dan sistem. Korupsi bukan aib tetapi sarat untuk masuk ke lingkaran kekuasaan. Kebodohan dipelihara agar tetap jinak dan mudah dieksploitasi. Rakyat Indonesia dipungut pajak sejak lahir sampai mati,"
Akibatnya? Rakyat seperti terjebak dalam kelelahan kolektif. Mereka diperas habis-habisan namun seolah tak berdaya melawan. Semua bentuk kejahatan mulai dari pemerasan, korupsi, pungli, sampai penindasan seakan mendapat legitimasi sempurna. Rakyat cuma bisa merintih. Hanya bisa bikin pernyataan sikap tanpa aksi nyata. Atau paling jauh, berdoa tanpa ikhtiar konkret untuk keluar dari lingkaran penderitaan ini.
Lalu, siapa dalang di balik semua ini? Sutoyo menyebut ada kekuatan tersembunyi yang dia sebut "Silent Dragon".
Silent Dragon ini tak perlu muncul di TV atau ribut di media sosial. Mereka mengatur irama negara dari balik layar, dengan tenang dan tanpa sorotan. Mereka yang sebenarnya mengendalikan dan mengelola negara. Mereka pula yang menentukan kebijakan, lalu mendistribusikannya ke para penyelenggara pemerintahan di depan. Pada akhirnya, mereka yang pegang kendali atas hidup dan matinya kita semua.
Mengakhiri paparannya, Sutoyo melontarkan pertanyaan yang menusuk.
"Silent Dragon ini seperti pembunuh darah dingin. Lalu, ada kesalahan atau kekeliruan apa pada pemimpin bangsa ini?"
Pertanyaan itu menggantung, menunggu jawaban yang entah dari mana datangnya.
Artikel Terkait
BMKG Pastikan Gempa Kuat di Fiji Tak Picu Ancaman Tsunami bagi Indonesia
Kementerian Pertanian Pastikan Harga Ayam di Pasar Minggu Masih Sesuai Acuan
Pakar APINDO Ingatkan KUHP Baru Bisa Tak Efektif Jika Penegak Hukum Bermasalah
IKA Unhas Salurkan 22 Ton Beras untuk Program Ramadhan