MURIANETWORK.COM - Bank Indonesia (BI) mencatatkan penyaluran insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang signifikan, mencapai Rp427,5 triliun, pada pekan pertama Februari 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan kredit dan ekonomi, dengan mayoritas dana dialokasikan melalui lending channel. Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan rincian penyaluran ini dalam konferensi pers, Kamis (19 Februari 2026), sembari menekankan perlunya transmisi suku bunga yang lebih kuat ke sektor riil.
Alokasi Dana KLM ke Kelompok dan Sektor Prioritas
Dari total insentif yang dikucurkan, Rp357,9 triliun disalurkan melalui lending channel, sementara Rp69,6 triliun dialirkan melalui interest rate channel. Penyaluran dana tersebut tersebar di berbagai kelompok perbankan. Bank BUMN menjadi penerima terbesar dengan alokasi Rp207,1 triliun, diikuti oleh Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) sebesar Rp184,8 triliun. Bank Pembangunan Daerah (BPD) menerima Rp28,5 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) memperoleh Rp7,1 triliun.
Fokus penyaluran diarahkan untuk mendukung sektor-sektor yang dianggap krusial bagi perekonomian. Perry Warjiyo merinci bahwa KLM telah mengalir ke berbagai bidang prioritas.
"Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan," jelasnya.
Transmisi Suku Bunga: Capaian dan Tantangan
Di sisi kebijakan moneter, penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 125 basis points (bps) selama 2025 serta ekspansi likuiditas telah berdampak pada penurunan suku bunga di pasar keuangan. Suku bunga acuan pasar uang, INDONIA, tercatat turun 211 bps menjadi 3,92 persen per 18 Februari 2026. Imbal hasil instrumen SRBI untuk berbagai tenor juga mengalami penurunan signifikan, masing-masing lebih dari 220 bps sejak awal tahun sebelumnya.
"Sementara itu, imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun dan 10 tahun masing-masing tercatat sebesar 5,06 persen dan 6,38 persen pada 18 Februari 2026," tambah Gubernur Warjiyo.
Meski demikian, transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke suku bunga perbankan dinilai masih terbatas. Suku bunga deposito satu bulan, misalnya, baru turun 68 bps menjadi 4,13 persen pada Januari 2026. Bank Indonesia mencatat masih tingginya pemberian suku bunga khusus (special rate) kepada deposan besar, yang mencapai 26,42 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK), sebagai salah satu faktor yang perlu terus dikurangi.
Doran untuk Kredit dan Ekonomi yang Lebih Kuat
Penurunan yang lebih lambat terlihat pada suku bunga kredit. Rata-rata suku bunga kredit perbankan baru berkurang 40 bps, dari 9,20 persen di awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026. Celah antara penurunan suku bunga dana dan kredit ini menjadi perhatian utama.
Ke depan, otoritas moneter menekankan bahwa upaya mendorong penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan harus terus ditingkatkan. Langkah ini dianggap krusial untuk merangsang pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, yang pada akhirnya diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil tetap menjadi kunci dalam menavigasi tantangan ekonomi ke depan.
Artikel Terkait
Trump Puji Prabowo sebagai Pemimpin Tangguh di Forum Perdamaian Washington
Presiden Prabowo Hadiri Peluncuran Dewan Perdamaian Gaza di Washington
BTN RUN 2026 Buka Pendaftaran, Targetkan 7.600 Peserta di Ancol
Pesawat Pelita Air Rusak Parah dan Terbakar di Pegunungan Nunukan, Tim Gabungan Diterjunkan