BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat dan Bencana Hidrometeorologi di Jawa hingga 2026

- Kamis, 19 Februari 2026 | 01:00 WIB
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat dan Bencana Hidrometeorologi di Jawa hingga 2026

Hingga 21 Februari 2026, Pulau Jawa masih perlu bersiap. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat, yang bisa datang disertai petir dan angin kencang. Situasi ini tentu saja bukan main-main.

“Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor,” begitu bunyi keterangan tertulis BMKG yang diterima Rabu lalu.

Dampaknya sudah terasa di sejumlah daerah. Hujan deras yang mengguyur, ditambah kilat dan angin kencang, telah memicu banjir dan longsor di tebing-tebing yang sudah jenuh air. Tak hanya itu, infrastruktur rusak, transportasi kacau, dan pasokan listrik pun terganggu. Keadaan memang sedang tidak mudah.

Menyikapi prakiraan ini, Abdul Muhari, atau yang akrab disapa Aam, selaku Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mendesak pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, optimalisasi posko siaga, pemantauan debit sungai dan waduk, serta pengawasan ketat di lereng-lereng rawan longsor adalah langkah yang mendesak.

“Penyebarluasan informasi peringatan dini, simulasi evakuasi, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi langkah krusial dalam mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian material,” tegas Aam.

Di sisi lain, BNPB juga mengajak masyarakat untuk proaktif. Ikuti informasi resmi, bersihkan saluran air, pangkas dahan pohon yang membahayakan, dan siapkan rencana evakuasi untuk keluarga. Kewaspadaan kolektif, kata mereka, adalah kunci untuk meminimalkan dampak buruk.

“Kesiapsiagaan kolektif menjadi kunci dalam meminimalkan risiko serta mempercepat penanganan dan pemulihan dampak bencana di berbagai wilayah,” ungkapnya.

Namun begitu, ancaman bencana di Indonesia ternyata punya dua wajah. Sementara Jawa bersiap menghadapi hujan lebat, wilayah lain justru berjuang melawan kekeringan. Aam mengungkap, di Riau, kebakaran hutan dan lahan telah melahap sekitar 566,8 hektare sejak awal tahun. Kota Singkawang di Kalimantan Barat juga mengalami penambahan luasan lahan terbakar.

Melihat kejadian itu, BNPB turut mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi kering, alias karhutla. Curah hujan yang rendah dan kondisi lahan gambut yang mudah terbakar bisa memicu bencana di wilayah lain. Patroli terpadu, pemantauan titik panas, pembasahan gambut, dan edukasi larangan pembakaran jadi upaya pencegahan utama. Jika sudah terlanjur, pemadaman darat dan udara serta penegakan hukum akan dilakukan.

Intinya, kewaspadaan harus ditingkatkan terhadap dua ancaman sekaligus: yang basah dan yang kering. Mitigasi berbasis komunitas dan koordinasi yang solid antar sektor menjadi sangat vital. Pengecekan sarana evakuasi dan ketersediaan logistik juga harus diprioritaskan untuk mengantisipasi bencana susulan.

“Sebagai bentuk upaya pencegahan dan penanganan darurat terpadu, BNPB terus melakukan koordinasi dan pendampingan kepada pemerintah daerah,” tutup Aam. Tujuannya satu: memastikan semua upaya berjalan semaksimal mungkin sebelum bencana datang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar