Pemilihan Aceh sebagai lokasi penempatan bukan tanpa alasan. Dahnil mengungkapkan adanya ikatan historis yang mendalam antara masyarakat Aceh dengan awal mula penerbangan nasional Indonesia. Dukungan rakyat Aceh pada masa lalu terhadap pesawat pertama, Seulawah RI-001, yang menjadi cikal bakal Garuda Indonesia, menjadi landasan filosofis dari program ini.
Simulasi untuk Kesiapan Optimal
Pesawat jenis Boeing 737 yang sebelumnya dioperasikan Citilink tersebut telah melalui proses perakitan dan penyesuaian khusus. Interiornya dilengkapi dengan fasilitas pendukung sehingga mendekati kondisi pesawat aktif. Dalam fasilitas ini, calon jamaah dapat menjalani pelatihan praktis, mulai dari proses masuk kabin, penyimpanan bagasi di kompartemen atas, pemakaian sabuk pengaman, hingga mengikuti arahan prosedur keselamatan selama penerbangan.
Pendekatan ini, menurut Dahnil, memperluas makna manasik yang selama ini mungkin lebih terfokus pada aspek ritual. Kesiapan logistik dan psikologis selama perjalanan dinilai sama pentingnya untuk menunjang kekhusyukan ibadah.
Dengan adanya simulasi yang mendekati kondisi nyata ini, diharapkan seluruh jamaah, terutama para calon jamaah lanjut usia, dapat memulai perjalanan spiritual mereka dengan persiapan yang lebih matang, rasa nyaman, dan keyakinan yang lebih penuh.
Artikel Terkait
Harga Cabai Anjlom, Bawang Merah dan Ayam Naik Tipis Menurut BI
Harga Emas di Pegadaian Masih Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Rp 2,87 Juta per Gram
Justin Hubner Terancam Izin Kerja di Belanda Meski Berstatus Homegrown di Inggris
Min Aung Hlaing Resmi Dilantik sebagai Presiden Myanmar Setelah Lima Tahun Berkuasa